Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 13:45 WIB

Rusia Memangkas Akses WhatsApp, Menyasar Terorisme dan Keamanan Data

Author

Rusia Memangkas Akses WhatsApp, Menyasar Terorisme dan Keamanan Data

Pemerintah Rusia telah mengumumkan pembatasan akses pada layanan WhatsApp dan merencanakan pemblokiran total aplikasi tersebut. Langkah ini diperkirakan akan memengaruhi lebih dari 100 juta pengguna di Rusia.

Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Dalam pengumuman yang disampaikan melalui media sosial, WhatsApp mengkonfirmasi dampak besar yang ditimbulkan oleh tindakan ini terhadap komunikasi di negara tersebut, terutama selama momen perayaan penting.

Langkah Pemblokiran dan Argumen Resmi

Pemerintah Rusia mengambil langkah drastis dengan menghapus aplikasi WhatsApp dari direktori Roskomnadzor, lembaga pengawas komunikasi negara tersebut. Sebelumnya, pembatasan akses telah dimulai sejak akhir tahun lalu dan kini memasuki tahap pemblokiran total.

Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin, menyatakan bahwa jika perusahaan Meta bersedia mematuhi undang-undang yang berlaku, akses WhatsApp mungkin dapat dipulihkan. Dia menjelaskan, "Jika perusahaan tetap tidak mau kompromi, bisa saya katakan, menunjukkan ketidaksiapan dalam dialog dengan pemerintah Rusia."

Pelanggaran hukum menjadi latar belakang pengambilalihan ini, dengan tudingan bahwa WhatsApp digunakan untuk kegiatan kriminal. Juru bicara Roskomnadzor menambahkan bahwa aplikasi ini turut berkontribusi dalam pengorganisiran aksi teror dan penipuan di wilayah Rusia.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif

Dampak Terhadap Pengguna dan Pilihan Alternatif

Pembatasan akses di Rusia mulai dirasakan oleh ribuan pengguna, terutama pada perayaan Natal dan Tahun Baru. Banyak yang mengeluhkan sulitnya berkomunikasi tanpa WhatsApp, yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka.

Sebelum langkah ini, pemerintah Rusia juga telah membatasi akses Telegram dengan alasan yang serupa. Kedua aplikasi ini diakui oleh masyarakat sebagai alat komunikasi yang penting, Namun, hal tersebut juga membawa risiko besar bagi privasi pengguna.

Sebagai respons, pemerintah mendorong warganya untuk beralih ke aplikasi lokal bernama Max, yang dirancang sebagai super-app serupa WeChat di China. Max kini diwajibkan di perangkat baru yang dijual di Rusia.

Pengawasan dan Reaksi Global

Pavel Durov, CEO Telegram, berpendapat bahwa pemblokiran aplikasi adalah bagian dari kebijakan pemerintah untuk mengawasi dan menyensor masyarakat. Ia menyatakan, "Membatasi kebebasan warga tidak akan pernah menjadi jawaban yang tepat."

Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, ketegangan antara perusahaan teknologi dan pemerintah semakin intensif. Pembatasan pada layanan Google dan Zoom menunjukkan pengawasan ketat terhadap akses informasi di negara tersebut.

Langkah pemblokiran aplikasi asing oleh Rusia kemungkinan akan memicu reaksi dari komunitas internasional, yang khawatir akan dampak terhadap kebebasan berbicara dan akses informasi yang aman bagi masyarakat.

Baca juga: Penjarahan di Rumah Eko Patrio, Polisi Selidiki Kasus Tersebut

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU