Senin, 19 JANUARI 2026 • 20:48 WIB

Tragedi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan: Menyigi Latar Belakang CFIT

Author

Tragedi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan: Menyigi Latar Belakang CFIT

Kecelakaan pesawat ATR 42-500 terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026, ketika pesawat itu menabrak lereng Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru oleh Polisi

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan bahwa insiden ini termasuk dalam kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT).

Detail Kecelakaan Pesawat

Pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak sebelum mengalami kecelakaan fatal saat mencoba mendarat di Bandara Hasanuddin. Di dalam pesawat terdapat sepuluh orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang yang sebagian besar merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Setelah tabrakan, tim SAR gabungan berhasil menemukan beberapa serpihan pesawat, termasuk bagian jendela dan ekor pesawat. Proses pencarian berlanjut di kawasan sulit di Gunung Bulusaraung, dengan salah satu jenazah ditemukan di ketinggian yang sulit dijangkau.

Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov

Pernyataan KNKT dan Proses Penyelidikan

Soerjanto Tjahjono, Kepala KNKT, mengungkapkan bahwa meskipun pesawat masih dapat dikendalikan, posisi mendekati lereng gunung membuat tabrakan tidak dapat dihindari. "Pesawatnya itu masih bisa dikontrol oleh pilotnya, tapi menabrak, tapi bukan sengaja menabrak," jelasnya.

KNKT saat ini masih menjalani penyelidikan lebih lanjut tentang penyebab kecelakaan. Soerjanto menekankan pentingnya untuk tidak berspekulasi mengenai adanya kelalaian pada pihak tertentu.

Hambatan dalam Proses Evakuasi

Tim SAR menghadapi tantangan besar dalam mengevakuasi jenazah korban karena kondisi cuaca buruk dan medan yang terjal. Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa kabut menyebabkan keterbatasan dalam jarak pandang selama operasi.

Tim telah mendirikan tenda dekat lokasi jenazah untuk beristirahat sambil menunggu cuaca membaik. "Kita sudah berupaya melakukan evakuasi, namun cuaca tidak memungkinkan," ujar Sultan.

Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU