Penyelidikan Kasus Hilangnya Alvaro Kiano Nugroho: Tes DNA dan Kendala yang Dihadapi Polisi
Kepolisian kini tengah melaksanakan tes DNA terhadap kerangka yang diduga merupakan jasad bocah laki-laki bernama Alvaro Kiano Nugroho, yang hilang sejak delapan bulan lalu di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru oleh Polisi
Penemuan ini mengejutkan masyarakat, karena Alvaro dilaporkan hilang pada Maret 2025 dan baru ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, telah mengungkapkan pentingnya pengujian DNA untuk memastikan identitas kerangka tersebut. "Baru diketemukan kerangka manusia yang diduga merupakan Alvaro," ujarnya kepada wartawan, mengutip Antara.
Proses penyidikan saat ini juga mencakup analisis laboratorium forensik untuk menganalisis sampel DNA dari kerangka tersebut. "Tunggu penyelidik dan penyidik bekerja dulu untuk memastikannya," tambahnya, mengindikasikan bahwa hasil tersebut akan menjadi kunci dalam menganalisis kasus ini.
Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat
Kerangka yang diduga merupakan jasad Alvaro ditemukan di daerah Pesanggrahan, Jakarta Selatan, setelah bocah tersebut dilaporkan hilang pada Maret 2025. Penemuan ini berasal dari penangkapan tersangka penculikan yang sekarang sudah ditahan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Namun, polisi menghadapi berbagai kendala dalam proses penyidikan. Salah satu kendala utama adalah hilangnya rekaman dari kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian, yang terhapus secara otomatis setiap harinya.
Kakek korban, Tugimin (71), memberikan keterangan terkait hilangnya Alvaro, menyatakan bahwa ia diduga diculik oleh seorang pria yang berpura-pura sebagai ayahnya. Tugimin mengenang bahwa pakaian terakhir yang dikenali Alvaro saat hilang adalah kaos hitam, celana panjang hitam, dan sandal hitam.
Selain itu, ciri fisik Alvaro juga dijelaskan dengan rinci oleh keluarga. Ia dikatakan bertubuh kurus, memiliki kulit gelap, rambut cepak, dan lesung pipi. Kasus ini menarik perhatian publik, menjadi pengingat pentingnya bagi orang tua untuk lebih waspada terhadap keselamatan anak-anak.
Baca juga: Komnas HAM Konfirmasi Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: