Wakil Presiden AS JD Vance mengomentari unggahan kontroversial Presiden Donald Trump yang menggambarkan dirinya mirip Yesus Kristus. Vance menganggap unggahan tersebut sebagai sebuah lelucon yang tidak dimengerti oleh banyak orang.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Ia menambahkan bahwa Trump sering bereksperimen di media sosial dan menghapus postingan itu setelah melihat reaksi publik yang beragam. Ini menunjukkan sifat komunikatifnya yang tidak selalu terfilter oleh media.
Penjelasan JD Vance tentang Unggahan Trump
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, JD Vance menjelaskan bahwa unggahan Trump mestinya dipandang sebagai candaan. 'Menurut saya, presiden mengunggah sebuah candaan, dan tentu saja ia menghapusnya karena menyadari banyak orang tak memahami leluconnya,' tegas Vance.
Vance juga menekankan bahwa gaya komunikasi Trump yang unik tanpa intervensi media adalah sesuatu yang positif. 'Saya justru melihat itu sebagai hal yang baik dari presiden, yaitu ia tidak disaring,' tambahnya.
Dia menggarisbawahi bahwa dalam era media sosial, lelucon sering kali disalahartikan, dan rakyat harus lebih menerima selera humor pemimpin mereka.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Reaksi Trump dan Klarifikasi Terkait Unggahan
Setelah menghapus unggahan tersebut, Trump memberikan klarifikasi tentang gambar itu. 'Saya memang mengunggahnya, dan dalam pandangan saya, itu menggambarkan saya sebagai dokter dan berkaitan dengan Palang Merah,' jelas Trump.
Dia menuduh media sebagai penyebar berita palsu yang memelintir makna dari unggahan tersebut. 'Hanya media penyebar berita palsu yang bisa memelintir hal semacam itu,' tegasnya.
Pernyataan ini mencerminkan ketidakpuasan Trump terhadap cara berita dilaporkan dan menunjukkan ketegangan yang ada antara politisi dan media.
Pandangan Vance tentang Hubungan dengan Vatikan
Vance juga membahas hubungan antara Amerika Serikat dan Vatikan, menyebut bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang alami dalam politik. 'Kami menghormati Paus dan memiliki hubungan baik dengan Vatikan, tetapi perbedaan pendapat dalam isu substansial adalah hal yang wajar,' katanya.
Ia berharap Vatikan dapat lebih fokus pada isu moral dan urusan internal Gereja Katolik. 'Sedangkan Presiden Amerika Serikat menjalankan kebijakan publik,' terangnya.
Pernyataan ini menunjukkan pentingnya dialog sehat antara pemerintah dan lembaga keagamaan dalam menyelesaikan isu-isu yang berpotensi memecah belah.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: