Badan Gizi Nasional (BGN) berubah paradigma dalam penyaluran anggaran negara dengan meluncurkan mekanisme baru, di mana 93% dari total anggaran akan langsung dialokasikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa dari total anggaran sebesar Rp 268 triliun, sekitar Rp 240 triliun akan disalurkan tanpa melalui pemerintah daerah, berpotensi menciptakan pengaruh positif bagi ekonomi lokal.
Mekanisme Penyaluran Dana BGN
Dalam pendekatan baru ini, Dadan Hindayana menjelaskan bahwa 93% dari total anggaran dialokasikan langsung ke SPPG. Hal ini memastikan bahwa bantuan dana akan tepat sasaran dan langsung sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Dengan model ini, total Rp 240 triliun akan beredar dari Sabang hingga Merauke. Penyaluran dana yang tidak melalui pemerintah daerah menambah transparansi dan efisiensi dalam penggunaan anggaran negara.
"BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93% dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG," ujarnya, menekankan pentingnya mekanisme yang lebih langsung dalam penyaluran anggaran.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dampak Ekonomi Lokal
Dadan menjelaskan, perputaran dana yang mencapai Rp 36 triliun berpengaruh besar terhadap perekonomian lokal di berbagai wilayah. Dengan pengalokasian dana yang lebih adil, diharapkan terjadi peningkatan kegiatan ekonomi di setiap daerah.
Ia menekankan pentingnya meningkatkan jumlah SPPG agar lebih banyak masyarakat bisa mendapatkan akses ke program ini. "Uang yang telah beredar dari Sabang sampai Merauke hingga hari ini mencapai kurang lebih Rp 36 triliun," jelasnya.
Mekanisme baru ini diharapkan dapat mendorong pemerataan ekonomi dan memfasilitasi pengembangan berbagai potensial daerah.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kesejahteraan Petani
Melalui Program Makan Bergizi Gratis, BGN berupaya untuk meningkatkan penyerap produksi lokal, sehingga pelaku usaha dan petani dapat merasakan manfaat langsung. Langkah ini memberikan kepastian pasar bagi para petani.
Dadan mengungkapkan, kondisi ini memberi kesempatan kepada petani untuk mendapatkan harga yang lebih baik. Sebagai contoh, petani wortel di Nusa Tenggara Timur telah merasakan perubahan positif.
"Belum pernah terjadi dalam era mana pun, produksi lokal dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang," tuturnya, menyoroti pentingnya dukungan bagi petani melalui program ini.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Emas untuk Karier
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: