Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah mempertimbangkan opsi serangan militer besar-besaran terhadap Iran jika upaya diplomatik tidak membuahkan hasil.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Usai Kalahkan Fritz
Rencana ini berfokus pada penggulingan kepemimpinan di Teheran, dengan beberapa target strategis yang sudah teridentifikasi.
Pertemuan Strategis di Gedung Putih
Rencana serangan tersebut dibahas secara mendalam dalam pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih pada Rabu, 18 Februari 2026.
Hadir dalam pertemuan itu pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Direktur CIA John Ratcliffe.
Kompleksitas Target Iran
Dalam diskusi tersebut, Trump meminta pemaparan dari Jenderal Caine dan Ratcliffe mengenai strategi yang dianjurkan untuk menghadapi Iran.
Baca juga: Komnas HAM Konfirmasi Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Namun, meskipun rencana serangan telah disusun, terdapat keraguan di kalangan pejabat tentang efektivitas pendekatan tersebut.
Jenderal Caine menegaskan bahwa Iran adalah target yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan operasi sebelumnya, sehingga mengandalkan serangan udara saja dirasa tidak memadai.
Opsi Diplomatik yang Diperhitungkan
Di tengah ketegangan, pemerintah AS juga mengevaluasi usulan dari Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, mengenai kapasitas produksi bahan bakar nuklir oleh Iran.
Usulan ini mencakup izin untuk memproduksi bahan nuklir dalam jumlah kecil untuk keperluan medis, yang sebelumnya dilakukan di fasilitas di Teheran.
Namun, masih tersisa ketidakpastian mengenai kesediaan Iran untuk memangkas program nuklir yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: