Pada tanggal 9 Februari 2026, Jepang mengumumkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesarnya, Kashiwazaki-Kariwa, telah dihidupkan kembali setelah beberapa waktu tidak aktif.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Pengoperasian kembali ini mengikuti masalah alarm pemantauan yang terjadi pada bulan Januari, menunjukkan upaya besar negara tersebut untuk kembali mengandalkan energi nuklir.
Sejarah dan Pengoperasian Kembali
Kashiwazaki-Kariwa, yang berlokasi di Niigata, dikenal sebagai PLTN terbesar di dunia berdasarkan kapasitas potensial. Pembangkit ini sebelumnya mengalami penghentian operasional akibat bencana gempa dan tsunami pada tahun 2011 yang menyebabkan peleburan inti di Fukushima.
Operator pembangkit, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), menyatakan bahwa reaktor dihidupkan kembali pada pukul 14:00 setelah beberapa tahun mengalami ketidakaktifan karena masalah keselamatan yang beragam.
Dengan kembalinya operasional pemangkit ini, Jepang terlihat kembali berkomitmen dalam upayanya untuk mengatasi tantangan energi dan mendapatkan kembali keandalan sumber energi berkelanjutan.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kontroversi dan Dampaknya
Pentingnya Energi Nuklir di Tengah Krisis Energi
Jepang berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menuju netralitas karbon pada tahun 2050, menjadikan energi nuklir sebagai pilihan vital. Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan energi meningkat seiring dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mendukung kebijakan promosi energi nuklir, yang ia nilai sebagai sumber energi yang dapat diandalkan. Pengembalian energi nuklir diharapkan memberikan kontribusi signifikan dalam memenuhi tuntutan energi yang terus meningkat.
TEPCO berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi dan memastikan bahwa pembangkit listrik dapat beroperasi dengan aman dalam jangka panjang.
Tantangan dan Respon Publik
Meskipun tujuan pengoperasian kembali ini adalah untuk meningkatkan penyediaan energi yang bersih, masyarakat di sekitar kawasan pembangkit terbagi dalam pandangan mereka. Hasil survei di Niigata menunjukkan bahwa sekitar 60% penduduk menolak pengoperasian kembali PLTN, sementara 37% mendukungnya.
Kekhawatiran akan risiko kecelakaan serius dan kepercayaan yang berkurang terhadap sistem keselamatan menjadi faktor utama ketidakpuasan publik. Sebelum pengoperasian kembali, pada tanggal 8 Januari, tujuh kelompok yang menolak mengajukan petisi yang ditandatangani oleh hampir 40.000 orang kepada TEPCO dan Otoritas Regulasi Nuklir Jepang.
Dengan situasi yang penuh tantangan ini, TEPCO dan pemerintah harus menghadapi opini publik dengan transparansi dan mengedepankan dialog untuk meredakan kekhawatiran warga.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: