Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 14:27 WIB

Kepala Pemerintahan NTT Menanggapi Tragisnya Peristiwa Kematian Siswa

Author

Kepala Pemerintahan NTT Menanggapi Tragisnya Peristiwa Kematian Siswa

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, menyampaikan penyesalan mendalam setelah insiden tragis seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS berusia 10 tahun yang mengakhiri hidupnya. Keputusan tersebut diduga berakar dari kekecewaan akibat ketidakmampuan mendapatkan alat tulis sekolah.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat

Melki menegaskan bahwa pemerintah provinsi dan kabupaten telah gagal dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap warganya. Insiden ini seharusnya menjadi sinyal bagi pemerintah untuk lebih serius menangani isu-isu sosial yang mendesak.

Pernyataan Gubernur NTT mengenai Kegagalan Pemerintah

Dalam acara peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa di Kupang, Gubernur Melki Laka Lena menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan cermin kegagalan berbagai pranata sosial yang ada. "Ini kan kita tidak tahu apa yang salah, tapi pranata sosial kita berarti gagal urus model beginian," ujarnya.

Melki lebih lanjut mengemukakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada. "Saya minta kita semua hadir di tempat ini, para pejabat-pejabat daerah, termasuk diri saya sendiri kayak gini cukup terakhir sudah," tambahnya.

Pentingnya transparansi dalam pengelolaan respons terhadap masalah sosial turut ditekankan oleh gubernur. Semua pihak harus siap bertanggung jawab jika ditemukan kesalahan dalam penanganan insiden tersebut.

Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat

Kronologi Kasus YBS dan Komentar Ibu

Insiden melibatkan seorang siswa kelas IV SD bernama YBS, yang diduga mengambil keputusan fatal setelah tidak dapat dukungan untuk membeli alat tulis sekolah. YBS meminta uang senilai Rp10.000 kepada ibunya, namun tidak mendapatkan respon positif.

Ibu YBS yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan mengaku tidak memiliki uang untuk membantu anaknya. Pernyataan ini mencerminkan kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh banyak keluarga di daerah tersebut.

Kenyataan ini menunjukkan betapa seorang anak merasa terdesak hingga mengambil langkah ekstrem, mencerminkan ketidakberdayaan masyarakat yang seringkali tidak mendapatkan akses dasar yang memadai.

Dampak dan Harapan untuk Perbaikan

Menanggapi peristiwa ini, Melki Laka Lena menyatakan rasa malunya sebagai gubernur atas kejadian yang tragis ini. "Malu saya sebagai gubernur model ini. Masa ada warga negara mati hanya karena model begini," ungkapnya.

Gubernur juga menekankan perlunya perubahan nyata dalam pengelolaan bantuan sosial dan pelayanan publik untuk mencegah tragedi serupa. Alokasi sumber daya tidak seharusnya berujung pada kehilangan nyawa orang-orang tidak mampu.

Melki berkomitmen untuk mencari tahu sumber masalah ini dan bersedia menghadapi konsekuensi jika terbukti ada kesalahan dalam pengelolaan. "Kalaupun saya salah, saya siap dituntut, kesalahan itu ada dimana, siap dia dituntut," tegasnya.

Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU