Rabu, 28 JANUARI 2026 • 17:00 WIB

Bagaimana Tubuh Kita Menghadapi Perubahan Cuaca Ekstrem

Author

Bagaimana Tubuh Kita Menghadapi Perubahan Cuaca Ekstrem

Perubahan cuaca memiliki dampak besar pada kesehatan dan kenyamanan tubuh. Di Indonesia, situasi ini menjadi sangat relevan mengingat kondisi cuaca yang sering berubah drastis, dari panas menyengat hingga hujan lebat.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Reaksi Fisiologis terhadap Suhu

Saat cuaca menjadi lebih panas, tubuh kita memproduksi keringat sebagai mekanisme pendinginan. Keringat tersebut menguap dari kulit dan berfungsi menurunkan suhu tubuh.

Di sisi lain, ketika suhu mulai turun, pembuluh darah di kulit menyempit untuk mempertahankan panas. Proses ini, yang disebut termoregulasi, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan suhu tubuh.

Dalam kondisi ekstrem, ada kemungkinan mekanisme ini gagal dan menyebabkan masalah kesehatan seperti heatstroke atau hypothermia. Kesadaran akan reaksi ini sangat penting, terutama di daerah yang sering mengalami perubahan suhu.

Peran Hormon dalam Adaptasi

Hormon berperan sangat penting dalam adaptasi tubuh terhadap perubahan cuaca. Hormon kortisol, misalnya, membantu tubuh mengelola stres akibat perubahan suhu yang tiba-tiba.

Baca juga: Penjarahan di Rumah Eko Patrio, Polisi Selidiki Kasus Tersebut

Ketika suhu berubah, kelenjar adrenal akan memproduksi lebih banyak hormon ini untuk menjaga kecukupan energi dan memastikan kita tetap aktif meski dalam kondisi yang kurang nyaman.

Selain kortisol, hormon seperti adrenalin juga berperan saat cuaca dingin, yang dapat meningkatkan metabolisme dan membantu menghasilkan lebih banyak panas.

Adaptasi Jangka Panjang

Di daerah dengan variasi cuaca ekstrem, seperti wilayah tropis Indonesia, tubuh dapat mengembangkan adaptasi jangka panjang. Proses ini termasuk perubahan dalam komposisi darah dan jumlah keringat yang dihasilkan oleh tubuh.

Masyarakat yang tinggal di iklim panas biasanya memiliki kadar plasma darah yang lebih tinggi, yang berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dalam pendinginan tubuh. Mereka juga umumnya memiliki lebih banyak kelenjar keringat yang aktif.

Faktor genetik dan pola hidup, seperti kebiasaan olahraga, juga memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu. Individu yang lebih aktif secara fisik cenderung memiliki sistem yang lebih baik untuk beradaptasi dengan perubahan cuaca.

Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU