Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza sebagai respon terhadap konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru oleh Polisi
Pengumuman ini disampaikan melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Kamis (15/1), di mana Trump menekankan pentingnya dewan ini dalam upaya perdamaian.
Pembentukan Dewan Perdamaian
Dewan Perdamaian yang baru dibentuk ini merupakan hasil dari resolusi yang diadopsi oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 17 November lalu.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan, Trump mengungkapkan, 'Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk mengumumkan bahwa DEWAN PERDAMAIAN telah dibentuk.'
Dewan tersebut akan beroperasi di bawah komite teknokrat Palestina yang baru, dan Trump akan menjabat sebagai ketua dewan.
Trump juga menyatakan bahwa keanggotaan dewan ini akan dirilis dalam waktu dekat, dan mengklaim bahwa dewan ini akan menjadi 'dewan terhebat dan paling bergengsi' di dunia.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Fase Kedua Gencatan Senjata
Gencatan senjata Gaza resmi memasuki fase kedua pada Rabu (14/1), di mana pengumuman tersebut disampaikan oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff.
Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana yang lebih luas untuk demiliterisasi dan rekonstruksi Gaza pasca-konflik.
'Hari ini, atas nama Presiden Trump, kami mengumumkan peluncuran Fase Dua dari Rencana 20 Poin Presiden untuk Mengakhiri Konflik Gaza,' kata Witkoff dalam pernyataannya.
Trump menjelaskan bahwa bantuan kemanusiaan telah secara signifikan mencapai rakyat Gaza selama fase pertama gencatan senjata.
Tantangan di Lapangan
Walaupun gencatan senjata telah diterapkan, laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan jumlah korban yang tinggi, dengan 451 orang dilaporkan tewas sejak gencatan senjata dimulai.
Warga Palestina menekankan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai jika Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza, yang ditolak oleh pihak Israel.
Di sisi lain, reaksi dari kelompok Hamas menunjukkan penolakan terhadap disarmament yang diajukan oleh Israel, dengan argumen bahwa kondisi tersebut tidak dapat dilaksanakan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Dinanti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: