Psikolog Dr. Irna Minauli, M.Si, mengeksplorasi kondisi jiwa A, seorang siswi kelas 6 yang terlibat dalam kasus pembunuhan ibu kandungnya di Medan. Dari penilaian yang dilakukan, terungkap bahwa A memiliki kecerdasan di atas rata-rata tanpa gangguan mental relevan.
Baca juga: Komnas HAM Konfirmasi Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Kejadian memilukan ini terjadi pada 10 Desember 2025, di mana A diduga menikam ibunya hingga 26 kali. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa tindakan ini lebih berkaitan dengan lingkungan kekerasan ketimbang masalah psikologis yang umum.
Hasil Pemeriksaan Psikologis
Dr. Irna Minauli mengungkapkan bahwa dalam asesmen terapeutiknya, A memiliki kecerdasan superior. "A memiliki kecerdasan yang sangat cerdas, sehingga tidak mengherankan jika ia sering mendapatkan prestasi tinggi dan mampu mempelajari musik serta seni secara otodidak," ungkapnya.
Kendati demikian, A tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan serius seperti skizofrenia atau depresi berat. "Dari hasil pemeriksaan tidak dijumpai adanya gangguan mental tersebut. Anak tidak mengalami halusinasi, delusi, atau perilaku yang aneh," tambah Irna.
Baca juga: iPhone 17 Series: Tanpa SIM Tray, Hanya Mengandalkan eSIM
Analisis Gangguan Perilaku
Dalam analisis lebih lanjut, Dr. Irna menilai kemungkinan adanya gangguan perilaku seperti conduct disorder. Gangguan ini sering kali tampak melalui perilaku yang menyimpang, seperti kekerasan terhadap hewan atau perusakan barang.
Namun, ia menemukan bahwa A tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut. "Kami mencoba menganalisis dengan kemungkinan adanya conduct disorder, tetapi ciri-ciri tersebut tidak ditemukan pada A," katanya.
Faktor Pemicu Tindakan
Irna menggarisbawahi bahwa pengalaman kekerasan yang dihadapi A menjadi faktor dominan dalam insiden ini. "Kemungkinan terjadinya peristiwa ini bukan karena gangguan kesehatan mental, tetapi lebih kepada paparan kekerasan yang dialami dan disaksikan," tegasnya.
Ia juga mencatat pengaruh eksternal, seperti game online dan bacaan, terhadap kondisi emosional A. "Emosi yang meluap cenderung menyebabkan kemarahan yang dipendam hingga meledak menjadi tindakan ekstrem," pungkasnya.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran Mahasiswa Dijadwalkan pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: