Sabtu, 27 DESEMBER 2025 • 17:05 WIB

Mengungkap Mitos di Balik Fenomena Hiperaktivitas Setelah Mengonsumsi Gula

Author

Mengungkap Mitos di Balik Fenomena Hiperaktivitas Setelah Mengonsumsi Gula

Fenomena yang dikenal sebagai 'sugar rush' tengah menjadi sorotan dalam percakapan masyarakat. Banyak yang bertanya-tanya, apakah benar konsumsi gula dapat menyebabkan seseorang menjadi hiperaktif?

Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov

Berbagai penelitian tentang hubungan antara asupan gula dan perilaku menunjukkan hasil yang beragam, memicu spekulasi dan perdebatan di kalangan ilmuwan dan publik.

Memahami Sugar Rush: Definisi dan Konteks

Menurut Cambridge Dictionary, 'sugar rush' diartikan sebagai efek konsumsi makanan dengan kandungan gula tinggi yang dapat memberikan rasa semangat dan energi. Definisi ini, walau umum, bisa berbeda-beda tergantung konteks penggunaannya.

Dalam istilah medis, 'sugar rush' juga dapat merujuk pada kondisi hiperglikemia, yaitu kelebihan gula dalam darah. Pemahaman yang tepat tentang istilah ini sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman di masyarakat.

Baca juga: 5 Kota di Indonesia yang Pas untuk Liburan Sendirian

Penelitian tentang Kaitan Gula dan Perilaku

Diskusi mengenai hubungan antara konsumsi gula dan perubahan perilaku masih berlangsung dengan intens. Meski banyak penelitian dilakukan, hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa hubungan ini tidak selalu signifikan.

Contohnya, sebuah meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews menyimpulkan bahwa tidak ada bukti kuat yang mengaitkan konsumsi gula dengan peningkatan mood. Dalam beberapa situasi, konsumsi gula dapat menyebabkan 'sugar crash', yaitu kelelahan yang muncul setelah satu jam setelah mengonsumsinya.

Membedah Mitos dan Realitas di Balik Sugar Rush

Banyak orang percaya akan efek hiperaktif yang ditimbulkan oleh gula, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini mungkin lebih merupakan mitos. Persepsi masyarakat tentang 'sugar rush' dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis dan lingkungan.

Faktor lain, seperti jenis makanan yang dikonsumsi dan situasi saat mengonsumsinya, juga dapat memengaruhi reaksi individu, sehingga setiap orang bisa memiliki pengalaman yang berbeda terhadap asupan gula.

Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU