Banyak orang terjebak dalam rutinitas pola makan yang tidak sehat, dan masalah ini semakin meluas di masyarakat. Beragam faktor, dari tekanan sosial hingga stres, berkontribusi pada kesulitan menghadapi tantangan ini.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan, Menjamin Transparansi Anggaran
Pengaruh Lingkungan Sosial
Lingkungan di sekitar kita sering kali menentukan pilihan makanan yang kita buat. Ketika berkumpul dengan teman-teman, preferensi untuk makanan ringan atau cepat saji yang tidak sehat meningkat.
Studi menunjukkan bahwa interaksi dengan individu yang memiliki kebiasaan makan buruk dapat menular ke orang lain. Oleh karena itu, tekanan dari lingkungan sosial negatif dapat menyulitkan upaya untuk menjalani pola makan lebih sehat.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Provokasi atau Pembatasan Hak Asasi?
Dampak Stres dan Kesehatan Mental
Stres menjadi salah satu penyebab utama pola makan yang buruk. Saat stres, banyak individu memilih makanan tidak sehat sebagai pelarian, terutama yang manis atau berkalori tinggi.
Para ahli mengungkapkan bahwa peningkatan hormon kortisol selama periode stres dapat meningkatkan hasrat untuk mengonsumsi makanan berlemak dan manis. Akibatnya, pola makan buruk dan stres saling memperkuat satu sama lain.
Kebiasaan Makan yang Sulit Diubah
Kebiasaan buruk dalam pola makan seringkali dimulai sejak kecil dan terbawa hingga dewasa. Misalnya, kebiasaan menikmati camilan di malam hari dapat menjadi rutinitas yang menantang untuk diubah.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan yang sudah terbentuk selama lebih dari 21 hari cenderung sulit untuk diubah. Jika seseorang telah lama teredukasi dengan pola makan tidak sehat, beralih ke kebiasaan yang lebih baik bisa menjadi tantangan besar.
Baca juga: Respons Google Terkait Isu Keamanan Gmail dan Phishing
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: