Transformasi Desa Lhok Gunci Menjadi Aliran Sungai: Dampak Bencana Banjir Bandang di Aceh Utara
Desa Lhok Gunci di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara telah sirna akibat banjir bandang, berubah total menjadi aliran sungai baru. Sebanyak 85 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke Desa Paya Rubek demi keselamatan.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Banjir yang terjadi pada pukul 04.00 WIB tersebut tidak hanya menghapuskan permukiman dan lahan pertanian, tetapi juga mengakibatkan kehilangan mendalam bagi warga yang harus menghidupi diri mereka di tempat yang aman.
Dampak Banjir Bandang pada Komunitas
Banjir yang melanda Desa Lhok Gunci pada dini hari menggerus daratan, membuat rumah dan kebun warga lenyap tanpa jejak. Menurut Marlina Muzakir, Ketua TP PKK Aceh, yang melihat lokasi pasca-banjir, area pemukiman kini berubah menjadi alur sungai baru.
Warga yang sebelumnya tinggal dengan jarak aman kini menghadapi realitas pahit kehilangan tempat tinggal. Banyak yang terpaksa mengungsi dan tinggal di Meunasah di Desa Paya Rubek, jauh dari lokasi bencana.
Kepedihan yang dirasakan oleh warga tidak hanya mencakup kehilangan fisik, tetapi juga pusara sanak saudara yang tergerus oleh derasnya arus air. Kondisi ini membuat warga harus mengatasi trauma emosional disertai dengan tantangan fisik.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Upaya Penanganan dan Bantuan untuk Pengungsi
Di posko pengungsian, perhatian terfokus pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Marlina menekankan pentingnya akses terhadap kesehatan, dengan ketersediaan obat-obatan menjadi prioritas utama.
Bantuan logistik sedang didistribusikan kepada pengungsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada malam Senin, bantuan tersebut tiba di Desa Paya Rubek, membawa harapan baru bagi warga yang terdampak bencana.
Pengelolaan bantuan oleh pihak berwenang sangat diperlukan untuk memastikan semua pengungsi mendapatkan akses yang adil terhadap kebutuhan dasar selama masa krisis ini.
Pengalaman Warga Saat Banjir Melanda
Kasus-kasus menyentuh datang dari para pengungsi yang menceritakan pengalaman menegangkan saat bencana terjadi. Salah satu dari mereka, Yusri (39), mengungkapkan betapa cepatnya banjir datang, memisahkannya dari anaknya yang masih bayi.
"Air datang sangat cepat dan deras. Alhamdulillah, keluarga saya selamat. Setelah itu saya menyisir lokasi dan membantu evakuasi warga lain. Total 26 orang berhasil kami selamatkan," ujar Yusri, menceritakan momen-momen penuh ketegangan saat evakuasi berlangsung.
Berbagai cerita lain melengkapi narasi pahit namun heroik tentang ketahanan manusia di tengah bencana. Setiap kisah menandai perjuangan warga untuk bertahan hidup dan saling membantu satu sama lain.
Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: