Cuaca dingin berpotensi memicu peningkatan insiden serangan jantung, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di JAMA Cardiology.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Studi ini menunjukkan hubungan signifikan antara suhu rendah dan tingginya angka serangan jantung, yang patut menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan ahli kesehatan.
Hubungan Antara Suhu dan Serangan Jantung
Penelitian yang melibatkan data kejadian serangan jantung di seluruh Swedia menganalisis catatan cuaca dari berbagai stasiun pemantauan. Hasil analisis menunjukkan bahwa serangan jantung paling banyak terjadi dalam kondisi suhu rendah, angin kencang, minim cahaya matahari, dan tekanan atmosfer rendah.
David Erlinge, Kepala Departemen Kardiologi di Lund University, menegaskan bahwa risiko serangan jantung meningkat drastis saat suhu berada di bawah 0 derajat Celsius. Dalam studinya, penurunan insiden serangan jantung tercatat ketika suhu meningkat di atas 3 hingga 4 derajat Celsius.
"Ketika suhu minimum turun dari 20 derajat ke 0 derajat, risiko serangan jantung meningkat sebesar 14 persen," katanya. Penelitian ini memberikan gambaran penting bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi suhu seiring dengan menjaga kesehatan jantung.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov
Efek Paparan Dingin Jangka Panjang
Hong Chen dari Health Canada menjelaskan bahwa paparan suhu dingin dapat memberikan efek jangka panjang pada kesehatan jantung. Ia mencatat sejumlah literatur menunjukkan dampak paparan dingin dapat bertahan hingga dua hingga tiga minggu setelah terpapar.
Menariknya, asosiasi antara suhu rendah dan serangan jantung lebih menonjol saat musim yang lebih hangat. Hal ini mengindikasikan perlunya kewaspadaan meski penurunan suhu tidak ekstrem, yang tetap dapat memicu respons stres pada tubuh.
Para peneliti juga menyuarakan kekhawatiran bahwa perubahan iklim dapat membuat musim dingin lebih ekstrim, sehingga risiko kesehatan yang berkaitan dengan suhu dingin menjadi lebih signifikan meskipun suhu global meningkat.
Upaya Pencegahan untuk Meminimalisir Risiko
Ivor Benjamin, Presiden American Heart Association, menekankan bahwa meskipun studi ini menunjukkan hubungan antara suhu dingin dan serangan jantung, bukti penyebab langsung masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Meskipun demikian, terdapat banyak faktor risiko yang perlu diperhatikan terutama selama bulan-bulan dingin.
Aktivitas fisik berat di luar ruangan saat cuaca dingin, seperti menyekop salju, dapat menjadi pencetus serangan jantung. Oleh karena itu, Benjamin menganjurkan untuk membatasi aktivitas fisik berat saat cuaca dingin serta lebih banyak berada di dalam ruangan.
Penting juga untuk memeriksa kondisi kesehatan orang-orang terdekat, terutama mereka yang tinggal sendiri atau memiliki risiko penyakit jantung. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan mengurangi kemungkinan insiden serangan jantung.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: