Rabu, 19 NOVEMBER 2025 • 20:39 WIB

Mengenal Toxic Positivity dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Author

Mengenal Toxic Positivity dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Di tengah semangat optimisme yang berkembang, istilah 'toxic positivity' mulai mencuat. Sikap ini seringkali bisa membuat individu merasa tertekan, bukannya terbantu.

Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov

Semakin banyak orang terjerat dalam pola pikir positif ini, padahal mengakui perasaan negatif juga penting untuk kesehatan mental.

Definisi dan Sejarah Toxic Positivity

Toxic positivity merujuk pada pandangan yang mengutamakan hanya emosi positif, sementara emosi negatif diabaikan. Istilah ini muncul sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental pada beberapa tahun terakhir.

Ungkapan-ungkapan seperti 'tetap positif' atau 'semua akan baik-baik saja' sering dijumpai dalam budaya pop. Pernyataan-pernyataan ini kadang membuat individu merasa tidak nyaman saat menghadapi perasaan negatif.

Banyak individu yang terjebak dalam pola pemikiran ini, berpikir bahwa mereka harus selalu tersenyum meskipun mengalami kesulitan. Hal ini mengabaikan kenyataan bahwa emosi negatif juga merupakan bagian alami dari pengalaman manusia.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Menghebohkan

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

Meskipun niat di balik toxic positivity sering dianggap baik, dampaknya bisa merugikan. Ketika seseorang berusaha menyembunyikan perasaan sedih atau cemas dengan bersikap positif, mereka mungkin justru membangun tekanan mental yang lebih besar.

Orang-orang yang merasa tidak bisa mengekspresikan emosi negatif sering merasakan kesepian. Mereka juga merasa dihakimi oleh lingkungan sosial yang terus mendorong untuk berpikir positif.

Menurut studi, pengabaian emosi negatif dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan mental serius, seperti kecemasan dan depresi. Tanpa ada ruang untuk merasakan dan memproses emosi tersebut, individu bisa terjebak dalam siklus negatif.

Mendekati Keseimbangan Emosional

Mengupayakan keseimbangan emosional adalah langkah penting untuk menghindari dampak buruk dari toxic positivity. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan menerima bahwa tidak selalu harus merasa bahagia.

Membangun komunikasi terbuka dengan orang-orang terdekat sangat membantu. Mengizinkan diri berbagi perasaan dan pendapat tanpa takut dihakimi dapat menciptakan ruang aman untuk saling mendengar.

Sebagai masyarakat, kita perlu lebih menyadari bahwa setiap orang, baik pria maupun wanita, berhak merasakan emosi apapun. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi dukungan dan pemahaman satu sama lain.

Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU