Kamis, 13 NOVEMBER 2025 • 16:16 WIB

Kemenag Ambil Langkah Konret untuk Cegah Radikalisasi di Sekolah

Author

Kemenag Ambil Langkah Konret untuk Cegah Radikalisasi di Sekolah

Kementerian Agama (Kemenag) mengambil tindakan konkret untuk mencegah radikalisme di lingkungan sekolah setelah tragedi peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Langkah tersebut berfokus pada penguatan pendidikan karakter dan moderasi beragama dengan menggelar Kongres Rohani Islam Nasional I sebagai momentum revitalisasi.

Kongres Rohis Nasional I: Sebuah Inisiatif Strategis

Kongres Rohis Nasional I digelar oleh Kemenag pada 12-15 November 2025 di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, sebagai upaya memperkuat peran Rohis dalam mencegah radikalisasi di sekolah.

Dalam sambutannya, Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag, M Munir, menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban dan mengajak siswa untuk memperkuat nasionalisme.

Agenda ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga tindakan konkret dalam membangun kesadaran di kalangan pelajar akan pentingnya nilai-nilai moderat.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Dinanti

Peristiwa Tragis di SMAN 72 dan Implikasinya

Tragedi di SMAN 72 terjadi ketika pelaksanaan salat Jumat, di mana ledakan yang diduga berasal dari tujuh bom rakitan mengakibatkan empat di antaranya meledak.

Pelaku, seorang siswa berusia 17 tahun, terungkap sebagai korban bullying dan terpapar konten radikal di internet, yang memicu tindakan ekstrem tersebut.

Kejadian ini menyoroti pentingnya deteksi dini terhadap krisis mental dan paparan ekstremisme yang kian meningkat di kalangan generasi muda.

Respons Terhadap Radikalisasi di Kalangan Pelajar

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah memperingatkan sejak 2023 bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang paling rentan terhadap radikalisasi melalui dunia maya.

Survei Wahid Foundation tahun 2016 menunjukkan bahwa 58% aktivis Rohis memiliki kecenderungan mendukung konflik bernuansa radikal, yang mengindikasikan perlunya reformasi dalam gerakan Rohis.

Pemerintah kini berupaya menjadikan Rohis sebagai wadah pembinaan spiritual yang moderat, aman, dan inklusif guna melawan paham-paham ekstremis.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Risiko, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU