Kamis, 02 OKTOBER 2025 • 16:22 WIB

Dampak Kontroversi Boikot Netflix oleh Elon Musk

Author

Dampak Kontroversi Boikot Netflix oleh Elon Musk

Elon Musk mengajak publik untuk melakukan boikot terhadap Netflix dengan alasan mempromosikan agenda LGBT melalui tayangan anak-anak.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Usai Kalahkan Fritz

Kampanye ini dimulai setelah Musk mengkritik serial animasi 'Dead End: Paranormal Park', yang dinilai berisiko bagi anak-anak.

Kontroversi Boikot Netflix

Kampanye boikot ini dilatarbelakangi oleh karakter utama Barney, seorang remaja transgender gay dari serial animasi 'Dead End: Paranormal Park'. Musk menyoroti rating TV-Y7 yang menunjukkan tayangan tersebut ditujukan untuk anak usia 7 tahun ke atas, mendesaknya menyuarakan keprihatinannya.

Reaksi Musk semakin memanas setelah sutradara 'Dead End', Hamish Steele, dituduh mengejek kematian aktor konservatif Charlie Kirk. Dalam tanggapannya, Musk membagikan postingan dari akun konservatif sambil menyerukan pengikutnya untuk menghentikan langganan Netflix, yang mendorong viralitas di media sosial X.

Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov

Reed Hastings dan Sejarah Netflix

Reed Hastings, lahir pada 8 Oktober 1960, adalah sosok kunci di balik kesuksesan Netflix. Pengalamannya dalam bidang pendidikan dan teknologi berkontribusi pada peluncuran Netflix sebagai layanan rental DVD via pos pada tahun 1997.

Dari pengalaman pribadi ketika didenda US$ 40 karena keterlambatan mengembalikan film ke Blockbuster, Hastings dan Marc Randolph meluncurkan Netflix, yang kemudian bertransformasi menjadi layanan streaming pada tahun 2007. Transformasi ini menjadikannya raja dalam industri hiburan dengan lebih dari 100 juta pelanggan global.

Pengaruh Kontroversi Terhadap Netflix

Boikot oleh Musk bukanlah yang pertama kalinya, sebelumnya ia juga pernah mengkritik isi konten Netflix. Dengan 226 juta pengikut di X, ajakan Musk memiliki potensi dapat mengubah persepsi publik terhadap layanan streaming tersebut.

Data awal menunjukkan adanya penurunan jumlah pelanggan di Amerika Serikat sebagai dampak dari kampanye ini. Meski demikian, Netflix tetap bertahan sebagai pemimpin dalam industri ini, meskipun menghadapi tantangan dari kritikan terkait representasi dan konten LGBTQ+.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU