Langkah Kontroversial Israel Daftar Lahan Tepi Barat Sebagai Properti Negara
Pemerintah Israel baru saja menyetujui pendaftaran lahan di Tepi Barat sebagai 'properti negara', yang menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak internasional.
Baca juga: Memahami Self Love: Langkah Awal Menuju Hubungan yang Sehat
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari proses aneksasi yang dinilai ilegal oleh banyak negara di seluruh dunia.
Kementerian Luar Negeri Israel mengemukakan bahwa tujuan pendaftaran lahan di Tepi Barat adalah untuk memperjelas hak atas tanah secara transparan, terutama setelah adanya pendaftaran lahan ilegal sebelumnya.
Namun, langkah ini mendapat penolakan keras dari Mesir, Qatar, dan Yordania, yang mengecam tindakan tersebut sebagai langkah ilegal menurut hukum internasional.
Otoritas Palestina juga menanggapi secara tegas dengan meminta intervensi internasional untuk mencegah aneksasi yang dianggap akan merusak keberadaan negara Palestina.
Ketegangan yang terus meningkat di wilayah tersebut menjadi perhatian besar bagi komunitas internasional yang khawatir akan dampak lebih lanjut dari keputusan ini.
Pemerintah Mesir menyatakan bahwa langkah Israel ini merupakan 'eskalasi berbahaya' yang semakin memperkuat kontrol atas wilayah yang diduduki.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Provokasi atau Pembatasan Hak Asasi?
Kementerian Luar Negeri Qatar juga menilai bahwa pengubahan status lahan menjadi 'properti negara' hanya akan mengurangi hak-hak rakyat Palestina.
Jonathan Mizrachi, co-direktur LSM Israel anti-settlement, menggambarkan langkah ini sebagai 'mega pengambilalihan lahan', yang menunjukkan potensi untuk mengubah kondisi kepemilikan lahan yang ambigu saat ini.
Desakan ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi oleh warga Palestina di tengah meningkatnya kontrol Israel terhadap wilayah tersebut.
Kekhawatiran semakin meningkat mengenai dampak keputusan ini terhadap warga Palestina dan hubungan antara mereka dengan pemukim Israel.
Laporan yang muncul menunjukkan adanya peningkatan serangan terhadap warga Palestina, yang menunjukkan situasi semakin memburuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: