Krisis Iklim: Banjir dan Siklon Tropis Kian Mengancam Indonesia
Perubahan iklim global telah memicu meningkatnya intensitas hujan dan kemunculan siklon tropis di Indonesia, yang kini menjadi tantangan serius bagi masyarakat dan pemerintah.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa dampak krisis ini semakin terlihat nyata dan memengaruhi pola bencana hidrometeorologi di Tanah Air.
Menurut Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, perubahan iklim menyebabkan hujan dengan intensitas yang sangat tinggi. 'Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer,' ujarnya.
Contoh konkret dari kondisi ini adalah munculnya siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia, yang telah menimbulkan kerugian signifikan, terutama di wilayah Jakarta dan pantai utara Jawa.
Eddy menjelaskan bahwa hujan ekstrem dalam jangka waktu pendek sering dipicu oleh gelombang atmosfer ekuatorial, sementara hujan berkepanjangan dipengaruhi oleh fenomena iklim besar seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). 'Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer,' jelasnya.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov
Indonesia terletak pada jalur Asian Monsoon, yang mengakibatkan uap air dari Asia memasuki wilayah Jakarta. 'Kondisi tersebut memicu terbentuknya pusat tekanan rendah,' ungkap Eddy.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pusaran atmosfer yang terbentuk dapat mengurangi daya dukung lingkungan. Dalam lapisan atmosfer tertentu, pertemuan angin baratan dan timuran menghasilkan hujan lebat yang terfokus dalam waktu lama di satu kawasan.
Dengan bentang alam tersebut, Jakarta semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat pola curah hujan yang tidak normal dan lanskap urban yang memiliki daya serap air yang minim.
Eddy menekankan pentingnya transformasi sistem peringatan dini untuk menanggulangi bencana hidrometeorologi. 'Pendekatan konvensional tidak lagi memadai,' tegasnya.
Ia menyarankan penggunaan teknologi modern seperti AI, big data, dan machine learning untuk meningkatkan ketepatan prediksi cuaca. Hasil riset BRIN diharapkan dapat membantu dalam mitigasi bencana dan pengembangan kebijakan berbasis sains.
Eddy juga mencatat bahwa masalah banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan lebat. Perubahan tutupan lahan yang terjadi berkontribusi mengurangi daya resap air, menjadikan lanskap perkotaan Jakarta belum sepenuhnya siap menghadapi benturan dari fenomena hidrometeorologi ekstrem.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: