Proses Analisis Black Box Pesawat ATR 42-500 Diperkirakan Memakan Waktu Lima hingga Sepuluh Hari
Proses pemeriksaan Black Box pesawat ATR 42-500 yang jatuh diperkirakan akan memakan waktu antara lima hingga sepuluh hari. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, dalam konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kontroversi dan Dampaknya
Setelah Black Box diterima, langkah selanjutnya meliputi pengunduhan dan analisis data untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Soerjanto menekankan pentingnya hasil analisis dalam menentukan faktor-faktor penyebab insiden tersebut.
Proses pengujian dimulai setelah penyerahan Black Box oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI (Pur) Moh Syafi'i kepada KNKT. Soerjanto mengkonfirmasi bahwa seluruh pemeriksaan akan dilakukan di kantor KNKT.
Prosedur awal termasuk pengunduhan data dari dua perangkat perekam dalam Black Box, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). CVR bertugas merekam komunikasi di kokpit dan suara lain, sedangkan FDR mencatat berbagai data penerbangan seperti kecepatan dan ketinggian.
Setelah pengunduhan data, langkah selanjutnya adalah verifikasi untuk memastikan data tersebut dapat digunakan dalam analisis lebih jauh. Soerjanto menekankan pentingnya akurasi data yang dikumpulkan dalam menentukan sebab kecelakaan.
Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak
Soerjanto menjelaskan bahwa walaupun dikenal dengan istilah Black Box, perangkat ini sebenarnya berwarna jingga terang untuk memudahkan pencarian. Nama 'black box' digunakan karena data di dalamnya tidak bisa diakses sebelum proses analisis selesai.
CVR merekam hingga empat kanal suara yang meliputi komunikasi antara pilot dan Menara Lalu Lintas Udara (ATC), percakapan antara pilot, serta suara di dalam kokpit. Sementara itu, FDR menyimpan sekitar 88 parameter penerbangan yang penting untuk analisis.
Pemanfaatan data dari kedua perangkat ini diharapkan dapat mengungkap penyebab yang akurat dari insiden, sehingga mengurangi ketergantungan pada dugaan semata.
Menurut Soerjanto, tujuan utama dari investigasi adalah untuk mendapatkan 'lesson learned' atau pelajaran dari insiden tersebut. Hal ini bertujuan untuk mencegah terulangnya kecelakaan yang serupa di masa mendatang.
KNKT akan menerbitkan laporan lengkap yang memuat hasil analisis dan rekomendasi perbaikan untuk keselamatan penerbangan. Laporan ini diharapkan menjadi acuan dalam meningkatkan standar keselamatan di sektor transportasi udara.
Dengan investigasi yang berdasarkan pada data dan analisis yang komprehensif, diharapkan akan ada perbaikan signifikan dalam prosedur dan teknologi keamanan penerbangan di Indonesia.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: