1.440 WNI Berhasil Dievakuasi dari Sindikat Penipuan Kamboja
Sebanyak 1.440 Warga Negara Indonesia (WNI) berhasil bebas dari sindikat penipuan siber di Kamboja dalam lima hari terakhir. Evakuasi ini dilakukan berkat komitmen yang ditunjukkan oleh Pemerintah Kamboja untuk memberantas praktik ilegal tersebut.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh mengonfirmasi bahwa ribuan WNI ini meninggalkan lokasi scam yang tersebar di Kamboja antara 16 hingga 20 Januari 2026.
Dalam gelombang evakuasi ini, KBRI mencatat kedatangan terbesar pada hari Senin ke kedutaan, dengan 520 WNI yang meminta perlindungan dan bantuan pemulangan. "Gelombang kedatangan terbesar terjadi pada Senin, ketika 520 warga Indonesia datang ke kedutaan," demikian keterangan KBRI Phnom Penh, yang dikutip dari AFP.
Meskipun banyak yang terbebas dari sindikat tersebut, kendala administratif menyulitkan sebagian besar WNI. Banyak di antara mereka tidak memiliki dokumen resmi seperti paspor dan tinggal secara ilegal di Kamboja.
Pihak KBRI meminta agar para WNI segera melapor untuk mendapatkan bantuan pengurusan dokumen perjalanan mereka. "Masalah utama bagi mereka adalah tidak memiliki paspor dan tinggal di Kamboja tanpa izin imigrasi yang sah," ungkap keterangan dari pihak kedutaan.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Penangkapan Chen Zhi, pemimpin sindikat penipuan siber, berkontribusi besar dalam perubahan situasi ini. Chen Zhi, yang merupakan mantan penasihat pemimpin Kamboja, berhasil ditangkap dan diekstradisi ke China setelah didakwa oleh otoritas Amerika Serikat.
Konsul Jenderal RI di Phnom Penh menjelaskan bahwa penangkapan tersebut memberi efek jera bagi pelaku industri gelap di Kamboja. Banyak operator sindikat scam mulai membebaskan pekerjanya ataupun mengosongkan lokasi operasional untuk menghindari penggerebekan.
Langkah tegas ini diperkirakan memberikan sinyal peringatan kepada pelaku ilegal lainnya mengenai risiko yang mereka hadapi dalam menangani operasi mereka.
Pemerintah Indonesia melaporkan statistik penting terkait keamanan warganya di luar negeri. Sepanjang tahun lalu, KBRI Phnom Penh menangani lebih dari 5.000 kasus layanan konsuler, dengan lebih dari 80 persen kasus tersebut berhubungan dengan sindikat online scam.
Angka ini menunjukkan dampak negatif yang luas dari industri scam terhadap WNI di Kamboja. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan ada sekitar 100.000 orang yang dipekerjakan dalam industri penipuan siber di Kamboja.
Dengan situasi ini, diharapkan jumlah WNI yang melapor ke KBRI akan terus meningkat mengikuti penegakan hukum yang dilakukan oleh otoritas Kamboja terhadap sindikat scam.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: