Risiko Tidur Sejenak Saat Berkendara Jarak Jauh
Fenomena microsleep saat berkendara jarak jauh dapat berakibat fatal bagi pengemudi dan pengguna jalan lainnya. Banyak pengemudi tidak menyadari bahwa tidur sejenak di jalan dapat menjadi sumber bahaya besar.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Saat mengalami microsleep, pengemudi bisa kehilangan kesadaran selama beberapa detik tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Fenomena ini berpotensi menimbulkan kecelakaan serius yang berdampak jangka panjang bagi korban dan keluarganya.
Microsleep adalah momen singkat ketika seseorang tertidur dalam hitungan detik, umumnya terjadi pada saat mereka merasa sangat lelah. Kondisi ini sering muncul saat berkendara dalam durasi yang lama tanpa jeda.
Gejala microsleep termasuk mengantuk mendalam, mengangguk, dan hilangnya fokus. Dalam keadaan seperti ini, pengemudi dapat kehilangan kendali atas kendaraannya tanpa menyadari bahwa mereka telah tidur sejenak.
Situasi tersebut rentan dialami oleh pengemudi yang melakukan perjalanan jauh, terutama saat melintasi jalan-jalan panjang yang monoton.
Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Kecelakaan yang disebabkan oleh microsleep dapat berakibat serius. Penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan karena kantuk sering kali lebih parah dibandingkan dengan kecelakaan akibat faktor-faktor lain.
Data dari Korlantas Polri mencatat bahwa 20-30% kecelakaan lalu lintas di Indonesia terjadi akibat pengemudi yang mengantuk. Ini menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi oleh para pengemudi yang melakukan perjalanan jauh.
Selain mengakibatkan kerugian materi, kecelakaan ini juga sering memicu cedera fisik yang parah hingga kematian. Pemahaman tentang tanda-tanda microsleep sangat penting bagi pengemudi.
Ada sejumlah langkah efektif yang dapat diambil untuk mencegah microsleep, dimulai dengan memastikan cukup tidur sebelum melakukan perjalanan jarak jauh. Beristirahat secara berkala juga sangat dianjurkan.
Pengemudi disarankan untuk tidak hanya mengandalkan minuman berkafein untuk mengatasi rasa kantuk. Meskipun mampu memberikan efek sementara, kafein tidak akan bertahan lama dan bisa memicu kembali kelelahan.
Jika merasakan gejala kantuk, penting untuk berhenti sejenak di tempat yang aman, lalu melakukan stretching atau berjalan-jalan. Tindakan ini sangat membantu untuk mengembalikan fokus dan energi.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Eko Patrio, Polisi Selidiki Kasus Tersebut
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: