Gencatan Senjata antara Thailand dan Kamboja, Diplomasi Trump Berhasil
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Thailand dan Kamboja sepakat untuk menghentikan semua serangan mulai Jumat malam, 12 Desember 2025.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ karena Tutorial Pembuatan Bom Molotov
Pengumuman ini disampaikan setelah pembicaraan antara Trump dan Perdana Menteri Thailand serta Kamboja, menandai langkah penting dalam upaya perdamaian regional.
Gencatan senjata yang baru ini menjadi pencapaian penting setelah terjadi konflik selama lima hari di perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Sebelumnya, gencatan senjata telah tercapai pada bulan Juli berkat mediasi Malaysia yang memimpin ASEAN.
Kesepakatan gencatan senjata sebelumnya diformalkan melalui Deklarasi Damai Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025, yang ditandatangani dengan kehadiran Trump dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.
Namun, situasi berubah ketika Thailand menarik diri dari kesepakatan tersebut pada bulan November akibat insiden di perbatasan, yang menyebabkan sejumlah tentara terluka akibat ranjau darat yang ditanam oleh Kamboja.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset
Dalam pengumuman gencatan senjata ini, Trump menekankan pentingnya menghentikan konflik dengan menyatakan, 'Mereka telah setuju untuk menghentikan semua penembakan mulai malam ini, dan kembali ke Deklarasi Damai yang saya prakarsai.'
Pernyataan tersebut menggarisbawahi signifikan peran Trump dalam memediasi hubungan antara Thailand dan Kamboja, serta upayanya untuk membangun kembali dialog.
Dia juga menambahkan bahwa pengaruh Amerika Serikat dalam politik ASEAN adalah faktor penting dalam menjaga stabilitas kawasan, melalui penerapan taktik tinggi dan potensi pembekuan kerjasama perdagangan.
Dengan kesepakatan ini, kedua negara diharapkan dapat memulai kembali pembicaraan untuk menemukan solusi jangka panjang bagi konflik yang telah berlangsung lama.
Pernyataan Trump di platform Truth Social mencerminkan optimisme tidak hanya untuk Thailand dan Kamboja, tetapi juga untuk kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dianggap sebagai figur sentral dalam proses perdamaian ini, dengan harapan dia dapat terus berkontribusi dalam meredakan ketegangan yang ada.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Menghebohkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: