BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 05 DESEMBER 2025 • 21:33 WIB

Fenomena 'Brain Rot': Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Generasi Z

Fenomena Brain Rot : Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Generasi ZFenomena 'Brain Rot': Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Generasi Z

Fenomena 'brain rot' semakin menjadi sorotan, khususnya di kalangan Generasi Z yang hidup di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Istilah ini menggambarkan penurunan fungsi mental akibat kebiasaan buruk dalam menggunakan media sosial.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat

Rata-rata Generasi Z menghabiskan lebih dari enam jam sehari untuk scrolling di platform seperti TikTok dan Instagram, yang menjadi perhatian utama para ahli kesehatan mental.

Kondisi Otak dan Dampak Media Sosial

Paparan informasi yang cepat dan berlebihan berkontribusi pada penurunan daya ingat dan fungsi kognitif pada Generasi Z. Dalam studi yang dilakukan oleh para ahli, penggunaan media sosial yang berlebihan berhubungan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, yang sangat penting pada usia muda.

Ahli saraf kognitif dari MIT, Earl Miller, menyatakan, 'Brain rot bukan berarti otak kita benar-benar membusuk. Masalahnya, otak kita tidak dirancang menghadapi arus informasi tanpa henti seperti ini.' Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan interaksi nyata lebih penting daripada yang disadari oleh banyak orang.

Studi dari American Psychological Association juga menggarisbawahi bahwa kecanduan video pendek dapat mengakibatkan 'penuaan otak dini' bagi yang berada dalam rentang usia 18 hingga 29 tahun. Amanda Elton dari University of Florida menambahkan bahwa istilah 'accelerated brain aging' lebih akurat untuk menggambarkan kondisi ini.

Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi

Inisiatif untuk Mencegah 'Brain Rot'

Beberapa tren telah muncul di kalangan Generasi Z untuk menangkal efek buruk dari konsumsi media sosial. Salah satu di antaranya adalah menciptakan 'kurikulum bulanan' seperti yang dilakukan oleh content creator TikTok, Elizabeth Jean, yang berisi daftar bacaan dan kegiatan mendidik.

Tren lain yang menarik perhatian adalah gerakan untuk 'lepas ponsel' saat di rumah. Ini menciptakan ruang bagi kegiatan sosial yang lebih bermakna, sementara konsep 'dopamine menu' menawarkan alternatif positif untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa ketergantungan pada gadget.

Aplikasi seperti Brick dan Focus Friend semakin populer di kalangan pengguna sebagai langkah detoks digital. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna yang melakukan detoks media sosial selama dua minggu mengalami peningkatan fokus dan produktivitas.

Pentingnya Waktu Jauh dari Layar

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa interaksi sosial secara langsung sangat penting untuk menjaga fungsi otak yang kritis. Menghindari multitasking digital dapat membantu mencegah penurunan memori dan keahlian dalam proses pengambilan keputusan.

Aktivitas offline seperti bermain game, membaca, dan menulis jurnal terbukti meningkatkan kesehatan mental. Gary Small dari Hackensack Meridian School of Medicine berkomentar, 'Semakin cepat seseorang melindungi kesehatan otaknya, maka hasil baiknya dapat berjangka panjang.'

Generasi Z tidak hanya menunjukkan ketergantungan pada media digital, tetapi juga lebih vokal dalam menciptakan solusi inovatif untuk menjaga kesehatan otak mereka. Mereka menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental dalam dunia yang serba digital adalah langkah yang paling krusial.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kontroversi dan Dampaknya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Fenomena 'Brain Rot': Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Generasi Z

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!