Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya Indonesia beralih dari sekedar konsumen teknologi antariksa menuju status produsen satelit.
Baca juga: Sejarah Baru: Adrian Wibowo Berdarah Campuran Pertama yang Bermain di MLS
Transformasi ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian teknologi serta memperkuat posisi Indonesia di industri antariksa global.
Transformasi Industri Antariksa Indonesia
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) di BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menyebutkan bahwa Indonesia masih lebih sering berperan sebagai pengguna teknologi dari negara lain.
Dia mengungkapkan bahwa nilai strategis terbesar hanya akan dimiliki oleh negara yang memproduksi satelit dan menyediakan layanan peluncuran.
Meskipun sebagian besar komponen satelit masih diimpor, dia menegaskan bahwa para peneliti kini mulai membangun kemampuan nasional secara bertahap.
Beberapa teknologi yang telah berhasil dikembangkan mencakup reaction wheel, star sensor, dan sistem kamera satelit, yang merupakan elemen penting dalam sistem navigasi dan pengamatan satelit di orbit.
Dampak Strategis Produksi Satelit
Kemampuan untuk memproduksi satelit sendiri akan membawa dampak strategis bagi Indonesia, memperkuat kemandirian teknologi di sektor tersebut.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Pengembangan ini diharapkan juga dapat mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, serta menciptakan peluang untuk lahirnya industri satelit nasional.
Selain itu, program ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi peneliti muda yang terlibat dalam proses perancangan, integrasi, dan pengujian satelit.
Heru menyatakan bahwa pengalamannya akan memberikan peluang berharga dalam pengembangan teknologi antariksa di masa depan.
Fondasi Teknologi Satelit Indonesia
Pengembangan teknologi satelit di Indonesia telah dimulai sejak peluncuran satelit LAPAN-A1 pada tahun 2003, hasil kerja sama dengan Technical University Berlin.
Satelit ini diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV-C7 dari Indian Space Research Organisation, menandai tonggak dalam pengembangan teknologi antariksa nasional.
Heru menambahkan bahwa kemajuan dalam teknologi satelit sangat tergantung tidak hanya pada kecanggihan peralatan, tetapi juga pada visi, kepemimpinan, dan kerja sama tim yang kuat.
Dengan memperkuat semua aspek ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi aktor penting dalam industri satelit global.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: