Kelompok peretas Iran yang dikenal dengan nama MuddyWater telah berhasil menyusup ke dalam jaringan organisasi di Amerika Serikat, termasuk bank dan bandara.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Penetrasi ini telah berlangsung sejak awal Februari 2026 dan menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan serangan siber yang lebih besar di masa depan.
Penetrasi Jaringan Oleh Kelompok MuddyWater
MuddyWater diduga memiliki hubungan dekat dengan Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS), yang diakui berperan dalam berbagai operasi siber di berbagai belahan dunia.
Aktivitas peretasan kelompok ini menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, terkait dengan ketegangan politik yang berkembang.
Menurut laporan dari The Register, rangkaian serangan siber ini membuka kemungkinan bagi bagian lainnya dari organisasi untuk turut disusupi, menimbulkan alarm bagi berbagai sektor yang terhubung dengan jaringan itu.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Penemuan Malware dan Teknik Peretasan
Tim peneliti dari Symantec dan Carbon Black telah menemukan backdoor baru yang dikenal sebagai 'Dindoor', yang memungkinkan para peretas untuk mengendalikan sistem dari jarak jauh.
Malware ini tidak hanya terdeteksi di jaringan perusahaan teknologi yang beroperasi di Israel, tetapi juga merambah ke sistem bank di AS serta organisasi nirlaba di Kanada.
Selain itu, backdoor lain yang disebut 'Fakeset' juga terungkap di jaringan bandara dan lembaga nirlaba di Amerika, menunjukkan luasnya operasi MuddyWater di berbagai platform.
Ancaman Terhadap Keamanan Data dan Spionase Digital
Para peneliti menemukan adanya upaya pencurian data dari perusahaan perangkat lunak yang berperan penting dalam industri pertahanan dan kedirgantaraan, menandakan risiko serius terhadap keamanan nasional.
Meskipun belum ada kepastian mengenai keberhasilan dalam usaha pengiriman data ke cloud eksternal, upaya ini menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan sistem keamanan yang ada.
Secara lebih luas, perusahaan dan institusi di kawasan Timur Tengah mengalami lonjakan aktivitas spionase digital dalam seminggu terakhir, semakin mempertegas adanya ancaman dari serangan siber lintas negara yang menargetkan infrastruktur vital.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Menghebohkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: