Menteri Luar Negeri Sugiono menyoroti potensi risiko besar dari konflik di Iran, yang dapat melibatkan beragam negara di dunia.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Jika situasi ini terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat, dampaknya akan semakin meluas dan berdampak pada stabilitas kawasan yang lebih luas.
Risiko Eskalasi yang Meningkat
Dalam pernyataannya di Hotel Fairmont, Jakarta, Sugiono menjelaskan bahwa, "Risiko paling buruk adalah terjadinya eskalasi yang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara gitu." Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan jika tidak ada upaya untuk mengelola situasi saat ini.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya komitmen semua negara untuk melakukan de-eskalasi. "Kita menginginkan ada de-eskalasi. Kemudian situasi mereda, ya kan," ujarnya, menekankan perlunya kesepakatan bersama dalam menghindari konflik yang lebih besar.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari
Gagalnya Perundingan di Jenewa
Sugiono mengungkapkan rasa kecewa terhadap hasil negatif dari perundingan yang berlangsung di Jenewa antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menyatakan, "Kita menyesali gagalnya perundingan yang kemudian menyebabkan situasi yang terjadi," menunjukkan dampak langsung dari kegagalan diplomasi.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa kegagalan tersebut menciptakan potensi ketegangan yang semakin besar. Menurutnya, "Tetapi tetap saja, kita menekankan kembali pentingnya semua negara itu menghormati prinsip-prinsip kedaulatan dan integritas wilayah negara-negara lain."
Indonesia Siap Mediator
Sugiono juga menyampaikan niat Indonesia untuk berperan sebagai mediator dalam konflik ini. Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menawarkan kesediaannya dengan pernyataan, "keinginan beliau, menawarkan kesediaan beliau untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak menyepakati dan menyetujui ya."
Sugiono berharap agar semua pihak menahan diri untuk menghindari konflik yang lebih luas. Ia menambahkan, "Intinya adalah bahwa ya, kita berharap agar prinsip-prinsip hukum-hukum internasional, piagam PBB itu tetap dihormati," menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjaga perdamaian.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Tamansari, Bandung: Detail Kejadian dan Tanggapan Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: