Penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus Epstein-Barr (EBV) dapat menjadi pemicu penyakit lupus, yang sering disebut sebagai 'penyakit seribu wajah'.
Baca juga: Sejarah Baru: Adrian Wibowo Berdarah Campuran Pertama yang Bermain di MLS
Temuan ini membuka wawasan baru mengenai mekanisme lupus yang selama ini misterius dan berpotensi membawa kita pada pengembangan terapi inovatif.
Virus Epstein-Barr dan Penyakit Autoimun
Virus Epstein-Barr merupakan salah satu virus paling umum, dengan prevalensi infeksi mencapai 95% di kalangan manusia. Virus ini dikenal sebagai penyebab utama mononukleosis (mono), dan dapat ditularkan melalui air liur seperti saat berciuman atau berbagi minuman.
Sementara itu, lupus merupakan penyakit peradangan kronis yang muncul ketika sistem kekebalan tubuh mulai menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri. Penyakit ini dapat menjangkiti berbagai organ seperti kulit, sendi, ginjal, dan otak, sehingga disebut sebagai 'penyakit seribu wajah' karena keragaman gejala yang ditimbulkan.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
Temuan Penelitian Mengenai Virus EBV
Studi yang dipublikasikan di jurnal Science Translational Medicine ini dipimpin oleh Dr. William Robinson dari Stanford University. Penelitian ini menemukan bahwa individu yang menderita lupus memiliki 25 kali lebih banyak sel B terinfeksi EBV dibandingkan populasi sehat.
Dr. Robinson mengungkapkan, 'Ini adalah potongan mekanisme yang hilang. Kami pikir temuan ini berlaku untuk semua kasus lupus.' Temuan ini menunjukkan bahwa virus EBV dapat mengprogram ulang sel B untuk memproduksi antibodi antinuklear (ANA), penanda utama lupus yang menyerang jaringan tubuh.
Implikasi dan Arah Penelitian Masa Depan
Meskipun temuan ini sangat menjanjikan, para ahli memperingatkan perlunya bukti tambahan untuk memastikan bahwa mekanisme ini berlaku di seluruh kasus lupus. Dr. Anca Askanase, direktur klinis di Lupus Center Columbia University yang tidak terlibat dalam penelitian, menyatakan, 'Jika kita mulai memahami bagaimana virus ini bisa memicu penyakit autoimun, sudah waktunya memikirkan bagaimana mencegahnya.'
Temuan ini membuka jalan baru dalam pengembangan terapi lupus yang lebih spesifik. Terapi saat ini umumnya berfokus pada pengurangan peradangan, tetapi ke depan, para peneliti berharap dapat merancang terapi yang menargetkan sel B terinfeksi EBV dan memblokir jalur biologis yang memicu autoimun.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: