Sekelompok ilmuwan berhasil mengembangkan jaringan otak buatan yang mampu menyelesaikan tugas sederhana dengan menggunakan sinyal listrik.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain
Temuan ini berpotensi membuka pemahaman baru tentang interaksi penyakit saraf dan kemampuan belajar otak.
Pengembangan Mini Otak Buatan
Dalam penelitian ini, mini otak yang digunakan tidak terbuat dari jaringan manusia, melainkan berasal dari sel punca tikus yang dikembangkan menjadi kelompok-kelompok kecil.
Sel punca dikenal sebagai sel induk yang memiliki kemampuan untuk berkembang biak, dan meski tidak kompleks untuk berpikir atau merasakan, mini otak ini mampu mengirim serta menerima sinyal listrik.
Koneksi di dalam mini otak dapat beradaptasi sebagai respons terhadap rangsangan eksternal. Peneliti juga menghubungkan mini otak ini dengan simulasi keseimbangan virtual, mirip dengan menyeimbangkan penggaris di atas telapak tangan.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif
Metodologi Penelitian dan Temuan
Dalam penelitian yang berjudul Goal-Directed Learning in Cortical Organoids, sinyal listrik dikirimkan untuk memberi informasi kepada mini otak mengenai kemiringan tiang virtual.
Respons yang dihasilkan dari mini otak ini diterjemahkan menjadi perintah untuk menggerakkan kereta virtual ke kiri atau ke kanan. "Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," ungkap Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz.
Pada penelitian ini, mini otak dibagi menjadi tiga kelompok percobaan: tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif sesuai kinerja.
Hasil Penelitian dan Implikasi
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa mini otak tanpa umpan balik hanya mencapai tolok ukur kinerja 2,3 persen, sementara kelompok dengan umpan balik acak berkinerja 4,4 persen.
Menariknya, mini otak yang diberikan umpan balik adaptif berhasil mencapai 46 persen. "Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," tutur Robbins.
Meski hasil ini menggembirakan, penelitian ini juga menemukan bahwa mini otak yang telah dilatih akan segera "lupa" dalam waktu 45 menit jika tidak digunakan.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: