Pembangunan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) telah dimulai di Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menandai langkah strategis Indonesia menjadi pusat riset rumput laut global.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan perlunya riset rumput laut untuk memperkuat strategi nasional demi transformasi ekonomi pesisir.
Urgensi Riset Rumput Laut di Indonesia
Wakil Menteri Stella Christie menyoroti pentingnya menjadikan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia. Ia menyampaikan, 'Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang.'
Dengan Indonesia sebagai produsen rumput laut tropis terbesar, yang menguasai sekitar 75 persen pasar global, penguatan riset menjadi semakin mendesak. Meski nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar Dolar Amerika Serikat per tahun, posisi Indonesia di pasar global masih butuh penguatan.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
'Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah,' tegasnya, menekankan pentingnya pengembangan kapasitas riset dan hilirisasi.
Fasilitas dan Dukungan Internasional di ITSRC
Pusat riset ini direncanakan menjadi simpul kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China. Stella menyebutkan, 'Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti.'
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga telah menyisihkan Rp1,5 miliar untuk tahap awal pembangunan. Fasilitas yang akan dibangun mencakup gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, dan sarana pendukung lainnya.
Keunggulan Ekologis dan Peluang Eksplorasi Rumput Laut
Teluk Ekas memiliki sistem ekosistem tropis yang terlindung, dengan arus dan sirkulasi air yang baik, yang membuatnya ideal sebagai laboratorium hidup untuk penelitian produktivitas dan ketahanan iklim. Kawasan ini juga memiliki potensi pengembangan berbagai jenis rumput laut, termasuk Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.
Pusat riset diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas budidaya rumput laut melalui riset yang mendalam, dengan membawa bibit yang lebih unggul. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, diharapkan Indonesia bisa memaksimalkan potensi sumber daya alamnya.
Baca juga: iPhone 17 Series: Tanpa SIM Tray, Hanya Mengandalkan eSIM
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: