Lebih dari 11 juta kematian setiap tahunnya disebabkan oleh penyakit neurologis, suatu kondisi yang kini mempengaruhi hampir 3 miliar orang di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa perhatian terhadap masalah ini masih sangat minim di berbagai negara.
Baca juga: iPhone 17 Series: Tanpa SIM Tray, Hanya Mengandalkan eSIM
Banyak negara belum mengadopsi kebijakan yang memadai untuk menangani penyakit ini, yang mengakibatkan dampak signifikan terhadap kualitas hidup masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan dalam akses perawatan menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi ini.
Definisi dan Jenis-jenis Penyakit Neurologis
Penyakit neurologis meliputi beragam kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, mencakup otak, sumsum tulang belakang, dan saraf tepi. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi tubuh seperti gerakan, sensasi, dan perilaku.
Contoh-contoh utama dari penyakit neurologis termasuk stroke, epilepsi, Alzheimer, migrain, neuropati, meningitis, serta Autism Spectrum Disorder. Setiap jenis memiliki karakteristik dan dampak yang bervariasi, yang dapat merusak kualitas hidup individu yang terpengaruh.
Baca juga: Kompetisi Ketat: Manchester United dan Manchester City Berburu Kiper Baru
Statistik Kematian dan Respons Global
WHO mencatat bahwa kematian akibat penyakit neurologis mencapai 11 juta jiwa setiap tahunnya, yang berarti sekitar 40% populasi dunia terpapar berbagai kondisi ini. Namun, hanya 32% dari 194 negara di dunia yang memiliki kebijakan nasional untuk menangani penyakit neurologis.
Lebih mencemaskan lagi, hanya 18% dari negara tersebut yang mengalokasikan dana khusus untuk penanganan masalah ini. Dalam konteks jaminan kesehatan universal, hanya 25% negara yang memasukkan penyakit neurologis dalam paket jaminan yang tersedia.
Ketimpangan dalam Akses Perawatan Neurologis
Laporan terbaru dari WHO menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam akses terhadap perawatan penyakit neurologis, terutama antara negara-negara dengan pendapatan rendah dan tinggi. Di beberapa negara berpenghasilan rendah, jumlah ahli saraf dapat lebih sedikit hingga 82 kali dibandingkan dengan negara-negara kaya.
Selain itu, stigma sosial dan keterbatasan biaya juga berkontribusi terhadap rendahnya akses layanan kesehatan. Hal ini terutama dirasakan di daerah terpencil yang seringkali tidak memiliki fasilitas stroke atau rehabilitasi yang memadai.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: