Lama puasa di bulan Ramadan bervariasi di setiap negara, dipengaruhi oleh posisinya di garis lintang dan pola pergerakan matahari.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Hal ini menjadikan setiap negara memiliki pengalaman unik selama menjalankan ibadah puasa, yang didukung oleh penjelasan ilmiah.
Pengaruh Geografis terhadap Lama Puasa
Posisi geografis suatu negara memiliki dampak signifikan terhadap durasi puasa. Negara-negara yang terletak dekat dengan khatulistiwa umumnya memiliki durasi hari dan malam yang relatif sama sepanjang tahun.
Sebaliknya, negara-negara di belahan utara dan selatan, seperti Swedia dan Australia, mengalami perbedaan yang mencolok antara lama siang dan malam. Pada musim panas, mereka dapat menjalani puasa hingga 20 jam, sementara saat musim dingin, waktu puasa dapat menjadi jauh lebih singkat.
Variasi ini berkaitan erat dengan sudut datangnya sinar matahari. Makin dekat suatu lokasi ke kutub, makin besar variasi durasi siang dan malam yang terjadi, yang dapat mempengaruhi jadwal puasa selama bulan Ramadan.
Baca juga: Pecat Anggota Polri Terkait Kematian Ojol, Kompol Cosmas Kaju Gae Jadi Sorotan
Variasi Praktik Puasa di Berbagai Negara
Negara-negara pegunungan, seperti Nepal, juga mempertimbangkan perbedaan elevasi yang berpengaruh pada waktu terbenamnya matahari. Adaptasi tertentu pada aturan puasa sering dilakukan demi kenyamanan umat beragama yang berada di tempat tinggi.
Di negara-negara barat seperti Inggris, Muslim yang berpuasa sering memilih untuk mengikuti waktu puasa dari negara asal mereka alih-alih waktu lokal, meskipun durasi puasa bisa mencapai 20 jam. Beberapa memilih untuk berpuasa selama 18 jam, mengikuti waktu Arab Saudi.
Kebiasaan lokal juga berperan, terutama dalam hal makanan yang disajikan untuk berbuka puasa. Di negara-negara dengan durasi puasa lebih pendek, tradisi berbuka lebih cenderung melibatkan makanan yang lebih ringan.
Kesehatan dan Durasi Puasa
Dari perspektif kesehatan, durasi puasa yang lebih panjang dapat berdampak pada fisiologi tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi saat berpuasa lebih dari 16 jam.
Ahli kesehatan menekankan pentingnya menjaga asupan cairan dan nutrisi yang cukup selama waktu berbuka, terutama bagi mereka yang berpuasa dalam durasi panjang. Memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi saat berbuka dapat sangat berpengaruh untuk menjaga kesehatan selama bulan puasa.
Studi juga menunjukkan bahwa individu yang menjalani puasa lebih lama cenderung lebih rentan terhadap rasa lelah atau dehidrasi, terutama jika asupan cairan tidak mencukupi antara waktu berbuka dan sahur.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Bertemu Mahasiswa, Bahas Isu Tunjangan dan Investigasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: