Sebagai bagian dari rapat bersama Badan Legislasi DPR, seorang guru honorer mengekspresikan kepedihannya mengenai nasib dan kesejahteraan yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain
Indah Permata Sari, seorang guru dari Cibitung, menyoroti tantangan yang dihadapi para guru honorer terkait akses informasi dan kesenjangan dalam sistem administrasi pendidikan.
Cerita Emosional dari Indah Permata Sari
Indah Permata Sari, guru honorer di SDN Wanasari 01 Cibitung, hadir dalam rapat yang diadakan oleh Badan Legislasi DPR, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, ia membagikan pengalamannya yang membuatnya merasa terpinggirkan, terutama terkait kesulitan dalam memenuhi persyaratan administrasi.
Ia menjelaskan bahwa namanya tercatat tidak sesuai di data pendidikan, dengan posisi nomor 265, meskipun lulus syarat kerja yang diberikan. Ketua Baleg DPR, Bob Hasan, menanyakan pengertian mengenai data pendidikan tersebut, yang merujuk pada sistem Dapodik.
Indah menjelaskan, "Dapodik, Pak," yang menjadi kendala utama dalam proses pendaftaran pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K).
Baca juga: Respons Google Terkait Isu Keamanan Gmail dan Phishing
Tantangan Dalam Akses Informasi
Indah mengungkapkan bahwa ketidakterdata dalam Dapodik membuat guru honorer kesulitan mendapatkan informasi terkait pendaftaran P3K. Hal ini menciptakan kesenjangan informasi yang membuat mereka merasa terancam dalam pekerjaan mereka.
"Susah sekali, Pak, kadang informasi yang turun dari dinas ke sekolah tidak menyeluruh, Pak, jadinya kita ketinggalan info," kata Indah, mengisyaratkan kekecewaannya terhadap kurangnya transparansi komunikasi yang ada saat ini.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan mereka dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik tetapi juga mempengaruhi motivasi dalam mengajar.
Kesejahteraan Guru Honorer: Harapan dan Kenyataan
Dalam momen emosional, Indah mengekspresikan kesedihannya terkait rendahnya kesejahteraan yang dia alami sebagai guru honorer. Ia menceritakan bagaimana harus memilih antara mengajar dan bekerja sebagai pengantar laundry untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Karena saya juga, seperti yang tadi bapak bilang, pulang mengajar jadi antar jemput laundry, Pak," katanya sambil menahan tangis, menuntut perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat terhadap nasib guru honorer.
Hal ini menjadi cerminan dari banyaknya guru honorer lain yang mengalami kesulitan serupa, di mana kesejahteraan dan pengakuan atas jasa mereka menjadi topik yang mendesak untuk dibahas.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: