Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) memanggil PSSI dan I.League pada 20 Januari 2026 besok untuk membahas kasus rasisme yang dialami oleh Yakob Sayuri, pemain dari Malut United.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Rincian Peristiwa Penembakan Gas Air Mata di Kawasan Tamansari
Langkah ini diambil setelah aksi protes dari Barisan Trobos Malut United Jabodetabek yang menuntut perlindungan hak asasi bagi pemain yang menjadi korban tersebut.
Latar Belakang Kasus Rasisme
Kasus ini bermula setelah pertandingan antara Malut United dan Persib Bandung pada 14 Desember 2025. Insiden antara Yance Sayuri, saudara kembar Yakob, dan Marc Klok menjadi pemicu utama, di mana video friksi di lapangan viral.
Walau Yance sudah membatalkan niatan melakukan kekerasan, efek dari insiden tersebut berujung pada serangan siber yang sifatnya rasial terhadap Yakob dan Yance di media sosial.
Akibat serangan ini, kedua pemain mengalami trauma dan mendapatkan dampak negatif dalam karir mereka sebagai atlet, menciptakan gelombang reaksi keras dari para pendukung serta masyarakat luas.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
Respons KemenHAM dan PSSI
Staf Khusus Bidang Pemenuhan HAM KemenHAM, Yos Nggarang, menyatakan bahwa sepakbola seharusnya menjadi tempat yang mengedepankan perdamaian dan persatuan. Ia menekankan pentingnya komitmen PSSI dan I.League dalam menegakkan hak asasi manusia di arena olahraga.
Yos juga menekankan bahwa setiap pertandingan harus mencerminkan semangat inklusivitas, dan berharap agar organisasi sepakbola memiliki peran aktif dalam melawan rasisme serta bullying.
Dalam konteks ini, PSSI diharapkan tidak hanya mengambil langkah reaktif, tetapi juga proaktif dalam mendukung kampanye melawan diskriminasi di dunia olahraga.
Reaksi dari Malut United dan Publik
Malut United telah memberikan pernyataan resmi yang mengecam perlakuan tidak adil terhadap Yakob dan Yance. Klub ini menuntut agar Persib dan pihak terkait menegakkan tata tertib bagi pendukung mereka.
Reaksi publik terhadap insiden ini sangat kuat, dengan banyak pihak menyerukan tindakan tegas terhadap serangan rasial yang terjadi. Hal ini mencerminkan disapproval terhadap sikap intoleran di lingkungan olahraga.
Serangan yang menimpa kedua pemain menunjukkan tantangan signifikan yang masih dihadapi dalam usaha memberantas rasisme, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Tamansari, Bandung: Detail Kejadian dan Tanggapan Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: