Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa Thomas Djiwandono memiliki kompetensi yang memadai untuk mengisi posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Pandangan ini muncul di tengah kekhawatiran publik mengenai independensi bank sentral dalam pengambilan kebijakan.
Profil dan Kualifikasi Thomas Djiwandono
Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa Thomas Djiwandono, yang saat ini bertugas sebagai Wakil Menteri Keuangan, merupakan seorang profesional muda yang dikenal mampu menangani urusan keuangan negara.
Dengan pengalaman di bidang ekonomi yang kuat, Thomas dianggap memiliki kapabilitas untuk memimpin kebijakan moneter di Indonesia.
Ibrahim menekankan, "Thomas Djiwandono ini adalah seorang yang mempunyai figur milenial yang cukup bagus dalam masalah keuangan, sehingga wajar kalau seandainya Thomas Djiwandono itu mencalonkan diri sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia."
Pentingnya profesionalisme dalam menilai Thomas disorot, mengesampingkan latar belakang politiknya.
Isu Independensi Bank Indonesia
Ibrahim Assuaibi juga menggarisbawahi pentingnya jabatan ini sebagai posisi profesional yang terlepas dari kepentingan politik.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset
Ia menyatakan, "Ini adalah jabatan independen untuk bergabung menjadi Deputi. Kenapa Thomas Djiwandono dimasukkan di Deputi Gubernur Bank Indonesia? Adalah untuk memperkuat, memperkuat fondasi moneter di Bank Indonesia."
Ada harapan bahwa Thomas bisa berkontribusi terhadap stabilitas perekonomian melalui peningkatan koordinasi dalam kebijakan.
Keterlibatannya di Dewan Gubernur dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat institusi tersebut.
Pernyataan Menteri Keuangan tentang Independensi BI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa intervensi pemerintah dalam keputusan suku bunga bisa menjadi indikasi kurangnya independensi bank sentral.
Ia menegaskan, "Kalau itu dilakukan, barulah tampak bahwa BI tidak independen. Tapi, ini bukanlah kasusnya."
Purbaya berharap pernyataannya bisa meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi politisasi di Bank Indonesia.
Dengan adanya rotasi ini, diharapkan akan terjadi suatu pengayaan perspektif dalam pengelolaan kebijakan moneter dan keuangan negara.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: