Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 19:21 WIB

Aceh Utara Kembali Menghadapi Banjir, Status Tanggap Darurat Ditetapkan

Author

Aceh Utara Kembali Menghadapi Banjir, Status Tanggap Darurat Ditetapkan

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah kembali menetapkan status tanggap darurat bencana menyusul banjir yang melanda akibat hujan deras dan meluapnya sungai. Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan dampak bencana yang semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia

Status darurat ini ditetapkan untuk periode 14 hari ke depan, dan diharapkan dapat membantu akses dan pengaturan sumber daya untuk penanganan segera. Dalam dua hari terakhir, wilayah ini mengalami curah hujan luar biasa, menyebabkan dampak signifikan terhadap masyarakat.

Kondisi Terkini di Aceh Utara

Kebijakan status tanggap darurat di Aceh Utara akan berlangsung hingga 24 Januari 2026. Penetapan ini mengikuti evaluasi terhadap kondisi banjir yang melanda, di mana pihak pemerintah bertindak cepat setelah menerima laporan situasi.

Plt Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, menyatakan, 'Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir kembali memicu banjir susulan cukup luas di sini (Aceh Utara).' Banyak pemukiman warga terpaksa dievakuasi dan akses jalan menjadi terputus.

Dengan status darurat ini, Pemkab Aceh Utara diharapkan dapat melakukan pengerahan personel dan penggunaan anggaran darurat secara efektif. Hal ini akan mendukung upaya penanganan bencana yang lebih cepat dan terkoordinasi.

Baca juga: Sejarah Baru: Adrian Wibowo Berdarah Campuran Pertama yang Bermain di MLS

Dampak Banjir dan Lonjakan Korban

Menurut data posko tanggap darurat, per 10 Januari tercatat 230 korban jiwa dan enam orang hilang akibat banjir sebelumnya yang terjadi pada akhir November 2025. Penanganan juga dilakukan kepada lebih dari 19.000 pengungsi yang tersebar di 210 titik sementara.

Kerusakan infrastruktur juga sangat parah, dengan 46.607 unit rumah mengalami kerusakan. Bahkan, empat dusun pemukiman hilang, menyerukkan kebutuhan untuk langkah penyelamatan yang lebih menyeluruh.

Rapat koordinasi antara pihak pemerintah dilakukan untuk membahas langkah-langkah yang diperlukan menghadapi situasi ini. Jamaluddin menekankan, pentingnya upaya penyelamatan warga yang terpengaruh agar tidak ada lagi yang terdampar.

Dampak pada Sektor Pertanian

Banjir dan longsor yang terjadi memiliki dampak besar terhadap sektor pertanian, terutama perkebunan kopi di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah. Jubir Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, mencatat sekitar 13.083 hektar kebun kopi mengalami kerusakan.

Di Aceh Tengah, kerusakan lahan kopi mencapai 12.638 hektare, dengan fokus kerusakan lebih besar terjadi di Kecamatan Pegasing. Sedangkan di Bener Meriah, total kerusakan mencapai sekitar 445 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah, mengkonfirmasi bahwa pendataan kerusakan lahan masih berlangsung dan diharapkan selesai pada 20 Januari 2026. Dia mengungkapkan, 'Kita update terus dengan kementerian pertanian dan bantuannya maksimal dengan APBN.'

Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU