Senin, 05 JANUARI 2026 • 17:18 WIB

Transformasi Pasar Kencan Daring di Asia: Peluang dan Tantangan di Indonesia

Author

Transformasi Pasar Kencan Daring di Asia: Peluang dan Tantangan di Indonesia

Pasar kencan online saat ini tengah mengalami perubahan signifikan, seiring dengan pergeseran fokus dari Amerika Utara dan Eropa menuju Asia, termasuk Indonesia.

Baca juga: Pecat Anggota Polri Terkait Kematian Ojol, Kompol Cosmas Kaju Gae Jadi Sorotan

Dengan meningkatnya jumlah pengguna, terutama di kalangan perempuan, fenomena ini mengindikasikan potensi besar untuk pertumbuhan di sektor kencan daring.

Pergeseran Pasar Kencan Online

Perusahaan-perusahaan kencan online seperti Tinder dan Bumble menghadapi tantangan untuk menjaga jumlah pengguna di pasar Barat. Data terbaru menunjukkan, pengguna aktif Tinder mengalami penurunan sebesar 10%, mencatat 51 juta pengguna pada paruh pertama 2025, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Fenomena ini dikenal sebagai 'swipe-right fatigue', di mana pengguna merasa jenuh dengan pencarian pasangan online. Bumble juga mencatat penurunan pengguna sekitar 5%, dengan angka mencapai 20,8 juta, menunjukkan perlunya diversifikasi pasar untuk mempertahankan pertumbuhan.

Sebagai respons terhadap keadaan ini, banyak perusahaan memutuskan untuk mengalihkan perhatian mereka ke pasar Asia, di mana terdapat minat yang besar terhadap kencan online, dengan harapan bisa mengejar pertumbuhan di wilayah yang lebih berkembang.

Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer

Indonesia dan Tren Kencan Online

Indonesia muncul sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna aplikasi kencan yang signifikan. Menurut data, negara-negara Asia kini mendominasi lima besar dalam hal pertumbuhan unduhan aplikasi kencan pada 2025, dengan fokus meningkat pada perempuan yang semakin aktif mencari pasangan.

Meskipun pertumbuhan pengguna cukup menjanjikan, pendapatan dari aplikasi kencan online di Indonesia belum menunjukkan hasil yang signifikan. Hanya Jepang yang mencatat pertumbuhan pendapatan di antara negara-negara Asia lainnya, memperlihatkan tantangan yang dihadapi aplikasi dengan potensi besar tetapi keuntungan yang minim.

Hal ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih inovatif dan berkelanjutan dari penyedia layanan kencan online untuk menarik pengguna, serta mendesain model bisnis yang sesuai dengan pasar lokal.

Perspektif dan Adaptasi dalam Kencan Online

Shn Juay, Chief Executive dari Coffee Meets Bagel, menekankan perubahan paradigma yang terjadi di kalangan perempuan di Asia dalam mencari pasangan. 'Perempuan tak lagi bergantung pada keluarga dan teman untuk memperkenalkan mereka ke jodoh masa depan,' jelas Juay.

Perubahan ini mendorong aplikasi kencan online untuk menyesuaikan diri dengan norma budaya yang bervariasi di setiap negara. 'Orang-orang di Asia cenderung lebih berorientasi pada tujuan tertentu, yaitu mencari pasangan dalam jangka waktu lama,' tambahnya.

Adaptasi terhadap karakteristik dan harapan pengguna akan menjadi kunci sukses bagi aplikasi kencan yang beroperasi di pasar Asia, sehingga dapat memenuhi permintaan akan hubungan yang lebih serius dan berkelanjutan.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Risiko, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU