FOMO atau Fear of Missing Out menjadi isu yang semakin hangat dibicarakan di era digital saat ini. Rasa cemas akibat merasa tertinggal dari pengalaman orang lain telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China untuk Merayakan 80 Tahun Kemenangan Rakyat
Dengan kehadiran media sosial yang terus memperbarui setiap momen, banyak orang merasa tertekan untuk selalu terlibat, sehingga sering kali mengabaikan kebahagiaan yang ada di sekitar mereka.
Apa itu FOMO?
FOMO adalah istilah yang menggambarkan ketidaknyamanan yang muncul ketika seseorang merasa takut melewatkan sesuatu yang penting. Dengan adanya media sosial, fenomena ini semakin meluas karena orang dapat melihat aktivitas teman-teman mereka secara real-time.
Istilah ini diperkenalkan oleh Dr. Dan Herman pada tahun 2004, dan seiring waktu, FOMO telah berkembang menjadi masalah yang lebih luas. Kini, ia berhubungan erat dengan kecemasan sosial yang dialami oleh banyak individu di seluruh dunia.
Rasa FOMO dapat muncul dalam berbagai konteks, baik itu dalam acara sosial, liburan, atau tren terkini di dunia fashion. Hal ini dapat membuat seseorang merasa tidak puas dengan kehidupannya, meskipun realitasnya tidak selalu ada yang harus dikhawatirkan.
Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dampak Psikologis FOMO
Salah satu dampak paling signifikan dari FOMO adalah peningkatan kecemasan dan stres. Perasaan harus selalu terhubung dan mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita dapat membebani mental, terutama saat melihat teman yang tampak bahagia.
Penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa individu yang mengalami FOMO lebih mungkin memiliki tingkat kecemasan sosial yang tinggi. Mereka dapat merasa terasing meskipun berada dalam lingkungan yang banyak peluang.
FOMO juga berpotensi menyebabkan perilaku tidak sehat, contohnya menghabiskan waktu berlebihan di media sosial. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan emosi dan menciptakan masalah lebih lanjut terkait kesehatan mental.
Mengatasi FOMO
Mengurangi FOMO dapat dicapai dengan berbagai cara, dimulai dari membatasi waktu penggunaan media sosial. Dengan mengurangi paparan terhadap highlight kehidupan orang lain, kita dapat lebih fokus pada pengalaman pribadi.
Penting juga untuk menyadari nilai dari pengalaman yang kita miliki. Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, menghargai momen-momen dalam hidup akan membantu meredakan kecemasan yang tidak perlu.
Selain itu, menjalani gaya hidup seimbang dengan aktivitas offline, seperti olahraga atau bersosialisasi secara langsung, akan membantu kita merasa lebih terhubung dan puas dengan kehidupan yang dijalani.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: