Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat mengejutkan publik dengan penemuan punden berundak di Situs Cibalay, Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Menghebohkan
Dengan tinggi sekitar 20 meter dan terdiri dari tujuh hingga sepuluh teras, struktur ini diyakini sebagai cikal bakal arsitektur candi di Indonesia.
Rincian Temuan Punden Berundak
Ketua Tim Delineasi, Lia Nuri Rahmawati, mengungkapkan, "Temuan ini menjadi kejutan besar bagi tim, terutama karena ditemukan menjelang akhir kegiatan."
Struktur punden berundak menunjukkan modifikasi kontur alam yang signifikan, mencerminkan praktik ritual masyarakat prasejarah.
Penemuan ini merupakan bagian dari 38 titik potensi cagar budaya yang teridentifikasi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dengan 33 di antaranya adalah penemuan baru.
Situs Cibalay dikenal sebagai kawasan pemujaan leluhur, yang merefleksikan kekayaan tradisi budaya megalitik Nusantara.
Peran Strategis dalam Perlindungan Cagar Budaya
Kepala Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, Retno Raswaty, menegaskan, "Kegiatan ini memiliki peran strategis dalam perlindungan cagar budaya."
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Tamansari, Bandung: Detail Kejadian dan Tanggapan Kampus
Kawasan Cibalay merupakan bagian dari rencana pengembangan geopark Kabupaten Bogor, sehingga delineasi sangat penting untuk memperjelas batas budaya dan menetapkan zona perlindungan.
Hal ini juga bertujuan untuk memastikan pemanfaatan situs sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Sinergi lintas sektor diperlukan untuk keberhasilan program ini, dengan melibatkan Kementerian Kebudayaan RI, Kementerian Kehutanan, serta akademisi dan masyarakat setempat.
Peluang Penelitian dan Nilai Sejarah
Penemuan punden berundak ini memberikan wawasan baru mengenai sejarah arsitektur Indonesia serta membuka kemungkinan untuk penelitian lebih lanjut.
Punden berundak dianggap sebagai bentuk arsitektur sakral tertua di Indonesia yang berkembang pada masa prasejarah, dan diyakini merupakan cikal bakal arsitektur candi di periode Hindu-Buddha.
Akhir dari kegiatan delineasi ini adalah peta rekomendasi batas kawasan budaya yang akan menjadi acuan bagi pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak dalam upaya pelestarian.
Dengan demikian, penemuan ini tidak hanya bernilai arkeologis, tetapi juga strategis dalam pengelolaan dan pelestarian cagar budaya di Indonesia.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: