Penyakit gusi telah dikenal luas sebagai ancaman serius bagi kesehatan, sering kali dijuluki 'silent killer' karena gejalanya yang sulit terdeteksi pada awalnya.
Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan
Fenomena ini menjadi sorotan dalam Indonesian Hygiene Forum 2025 yang diselenggarakan oleh Unilever Indonesia, mempertemukan para ahli untuk mendiskusikan dampaknya terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Permasalahan dan Statistik Penyakit Gusi
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PBPDGI), drg. Usman Sumantri, M.Sc., menjelaskan bahwa penyakit gusi, termasuk periodontitis, memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan gigi dan mulut masyarakat.
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 mencatat 74,1 kasus periodontitis di Indonesia, yang merupakan penyakit inflamasi akibat infeksi bakteri pada jaringan periodontal.
Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan parah, termasuk gigi yang menjadi goyang hingga tanggal, seperti yang disampaikan drg. Usman.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Tamansari, Bandung: Detail Kejadian dan Tanggapan Kampus
Gejala dan Kesadaran Masyarakat
Prof. Dr. Amaliya, seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, menekankan bahwa gejala awal gingivitis sering kali samar dan tidak menimbulkan rasa sakit, hal ini berkontribusi pada penyebaran penyakit.
Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai tanda-tanda awal penyakit gusi menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.
Tak hanya itu, dr. Elvieda Sariwati, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI mengatakan bahwa masalah gigi dan gusi menjadi salah satu dari lima besar penyakit yang ditemukan pada peserta program cek kesehatan gratis.
Dampak Ekonomi dari Penyakit Gusi
Dampak penyakit gusi tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga berpengaruh pada ekonomi secara keseluruhan. drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., dari Unilever Indonesia, menegaskan bahwa kesehatan gusi berhubungan langsung dengan tingkat produktivitas masyarakat.
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2050, 1,5 miliar orang di seluruh dunia akan mengalami masalah periodontitis, yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas.
Di Indonesia, kerugian produktivitas akibat masalah gigi dan mulut mencapai sekitar Rp 53,3 triliun per tahun, menunjukkan betapa seriusnya isu ini hakikatnya.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: