Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 14:20 WIB

Pengakuan Kontroversial Trump: Kepribadiannya dan Dampaknya

Author

Pengakuan Kontroversial Trump: Kepribadiannya dan Dampaknya

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia memiliki kepribadian yang mirip dengan pecandu alkohol. Pengakuan ini muncul setelah komentar serupa dari Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles.

Baca juga: Kemenperin: Izin Penjualan iPhone 17 Belum Diterima, Namun Investasi Apple Terus Berjalan

Dalam wawancara dengan New York Post pada 16 Desember 2025, Trump menjelaskan tentang kepribadiannya, meskipun ia tidak mengonsumsi alkohol, ia merasa ada karakter dalam dirinya yang rentan terhadap ketergantungan.

Pengakuan Trump Terkait Kepribadian

Dalam wawancara dengan New York Post, Trump menegaskan, "Maksudnya adalah saya begini, saya tak minum alkohol." Pernyataan ini menunjukkan kesadaran diri Trump terhadap potensi dampak negatif dari kebiasaan minum.

Trump menambahkan, "Jadi, semua orang tahu itu, tapi saya sering mengatakan jika saya minum, saya akan punya peluang besar untuk menjadi pecandu alkohol." Ini mencerminkan pengakuan akan kemungkinan risiko dari perilakunya.

Lebih lanjut, Trump menyatakan, "Saya beruntung saya bukan peminum. Jika saya peminum, saya mungkin akan sangat kecanduan... kepribadian yang posesif dan adiktif." Hal ini mengindikasikan pemahaman mendalam Trump terhadap sifat-sifat dalam kepribadiannya.

Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni

Komentar Kepala Staf Gedung Putih

Sebelumnya, Susie Wiles menyebutkan dalam wawancara dengan Vanity Fair bahwa Trump memiliki karakter mirip pecandu alkohol yang ditandai dengan perilaku permisif. Ia menyatakan, "Artinya dia bertindak seolah tidak ada yang tak bisa dia lakukan," yang menunjukkan sikap percaya diri yang tinggi.

Wiles menilai bahwa artikel yang diterbitkan oleh Vanity Fair tidak adil. "Konteks penting diabaikan dan banyak hal yang saya dan orang lain katakan soal tim dan presiden, tidak dimasukkan dalam berita," ujarnya, menandakan ketidakpuasan terhadap cara media menyajikan informasi.

Vanity Fair, di sisi lain, menegaskan bahwa semua pernyataan yang dikutip dalam artikel mereka sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan narasumber, memperlihatkan perbedaan persepsi antara pihak media dan anggota pemerintahan.

Reaksi Terhadap Teori Konspirasi

Dalam konteks yang lebih luas, Wiles juga mengungkapkan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, terpengaruh oleh teori konspirasi. Ini menambahkan lapisan kompleksitas baru pada dinamika internal pemerintahan di bawah kepemimpinan Trump.

Reaksi terhadap pernyataan yang diungkapkan oleh Wiles mencerminkan ketegangan yang ada antara birokrat dan media, di mana kritik sering kali tumbuh dari interpretasi yang berbeda terhadap ucapan publik dan tindakan individu penting.

Kritik terhadap pemberitaan media mencakup pandangan bahwa banyak informasi kontekstual yang hilang, yang lebih jauh menunjukkan tantangan dalam komunikasi antara pejabat pemerintah dan media.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Risiko, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU