Fenomena pasien yang mengalami kondisi 'halu' setelah menjalani anestesi telah menjadi perhatian masyarakat baru-baru ini. Meskipun sering muncul di media sosial, ahli menjelaskan bahwa kondisi ini tidak berbahaya dan dapat dipahami dari sudut pandang medis.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Spesialis anestesiologi, Reno Yonora, menjelaskan bahwa tidak semua pasien mengalami efek ini dan bahwa kondisi kesehatan pasien serta jenis anestesi yang diberikan mempengaruhi reaksi tersebut.
Apa Itu Efek Halu Setelah Anestesi?
Pasien yang mengalami efek halusinasi setelah anestesi menciptakan diskusi yang hangat di berbagai kalangan. Menurut Reno, efek ini muncul tergantung pada kondisi kesehatan pasien, jenis anestesi yang diberikan, dan durasi tindakan medis.
Beberapa obat anestesi diketahui memiliki efek disosiasi, di mana pasien merasa terpisah dari pikiran, perasaan, atau identitas mereka. Hal ini dianggap sebagai reaksi normal dalam konteks anestesiologi.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Efek Halu
Tidak semua jenis obat anestesi menyebabkan efek halusinasi. Obat seperti ketalar dinyatakan dapat memicu efek disosiasi, sedangkan yang lainnya tidak berpengaruh sama sekali.
Lebih lanjut, kondisi kesehatan pasien sebelum tindakan juga berperan besar. Pasien dengan riwayat kesehatan tertentu mungkin lebih rentan terhadap munculnya efek ini setelah anestesi.
Mengatasi Kecemasan Pasien Sebelum Anestesi
Meningkatnya kecemasan di kalangan pasien terkait efek halusinasi perlu ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, Reno menyarankan agar pasien berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani prosedur.
Dengan penjelasan yang jelas tentang proses anestesi, risiko, dan pilihan obat, diharapkan pasien dapat merasa lebih tenang dan tidak khawatir. Pemberian anestesi dilakukan dengan standar keamanan yang ketat untuk memastikan keselamatan pasien.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: