Nyeri dada sering menjadi pertanda masalah kesehatan yang serius, utamanya terkait jantung. Penanganan cepat sangat diperlukan untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Dokter spesialis kardiovaskular, dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, menyarankan agar konsumsi aspirin menjadi langkah awal saat mengalami nyeri dada mendadak, sebelum mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Pentingnya Penanganan Awal
Nyeri dada memiliki beragam penyebab, tetapi kesigapan dalam menanggapi gejala ini harus menjadi prioritas utama. Jika nyeri tidak ditangani dalam waktu 15 menit, intensitasnya dapat meningkat, membuat penderita beradaptasi dengan posisi tertentu untuk meredakan ketidaknyamanan, yang dikenal dengan istilah Levine sign.
Dalam seminar di Rumah Sakit Medistra, dr. Birry menegaskan, "Jika mendadak terjadi nyeri dada, pertolongan pertama bisa dengan meminum aspirin." Langkah awal ini menjadi krusial sebelum mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Apabila aspirin tidak tersedia, tindakan terbaik adalah segera menuju Unit Gawat Darurat (UGD). Dr. Birry menjelaskan bahwa EKG menjadi alat penting yang harus tersedia untuk membantu dokter dalam menentukan langkah-langkah pengobatan selanjutnya.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor, Gubernur Cabut Instruksi WFH
Evaluasi Gejala Nyeri Dada
Evaluasi yang dilakukan dokter sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab nyeri dada pada pasien. Dr. Birry menjelaskan, "Apakah dia cardiac chest pain atau non-cardiac chest pain? Apakah nyeri dada karena jantung, atau bukan?"
Penyebab non-jantung seperti refluks asam lambung dan kontraksi otot juga dapat mengakibatkan nyeri pada dada. Dalam beberapa kasus, beban berat juga bisa memicu ketidaknyamanan ini.
Untuk memastikan diagnosis yang tepat, pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit adalah langkah yang vital. Memahami penyebab nyeri dapat membantu menilai risiko yang dihadapi oleh pasien.
Perubahan Demografi Serangan Jantung
Serangan jantung yang umumnya diasosiasikan dengan orang tua kini mengalami pergeseran demografi, dengan populasi yang lebih muda turut terdampak. Dr. Birry menekankan bahwa "Hampir 70 persen usia rata-rata pasien serangan jantung adalah orang relatif muda, yaitu usia 30-35 tahun."
Kementerian Kesehatan RI mencatat, sekitar 800.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular. Data dari WHO menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan penyebab kematian utama di Indonesia, termasuk stroke dan hipertensi.
Penting untuk diketahui bahwa 90 persen penyebab penyakit kardiovaskular berhubungan dengan gaya hidup, sementara hanya 10 persen yang bersifat genetik. Oleh sebab itu, perubahan menuju gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan demi pengurangan risiko penyakit jantung.
Baca juga: 5 Kota di Indonesia yang Pas untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: