BRIN melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) baru-baru ini memaparkan kemajuan signifikan dalam teknologi nuklir untuk pengelolaan sampah plastik di forum NUTEC Plastics 2025 yang berlangsung di Manila, Filipina.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Stabil
Forum ini juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi daur ulang plastik berbasis radiasi dan teknik analisis untuk pemantauan mikroplastik laut.
Inovasi Teknologi untuk Penanganan Sampah Plastik
Dalam forum NUTEC Plastics, Kepala ORTN BRIN Syaiful Bakhri menggarisbawahi komitmen Indonesia untuk menghadirkan solusi berbasis sains terhadap tantangan pencemaran plastik.
Syaiful mengungkapkan, "Sebagai salah satu negara percontohan, Indonesia berkomitmen menghadirkan inovasi yang nyata dan berdampak."
Indonesia telah mengembangkan compatibilizer dari sampah plastik daur ulang yang kini berada di tahap prototipe skala teknis atau Technology Readiness Level (TRL) 5.
Inovasi ini menjadi salah satu contoh nyata kontribusi Indonesia dalam penanganan masalah global.
Pendekatan Utama dalam Pengelolaan Mikroplastik
BRIN menekankan dua pendekatan penting dalam forum ini, yakni daur ulang plastik berbasis radiasi dan pemantauan mikroplastik laut melalui teknik analisis nuklir.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Syaiful mengungkapkan, "Daur ulang plastik berbasis radiasi memungkinkan limbah plastik diubah menjadi material industri bernilai tambah," yang dianggap sebagai langkah penting dalam menghadapi polusi plastik.
Dalam usaha ini, IAEA terlibat mendukung program daur ulang dengan melibatkan 53 negara serta 102 negara dalam pemantauan mikroplastik laut.
Dengan kolaborasi global ini, diharapkan proses pengolahan dan pemantauan dapat lebih efektif.
Kerja Sama Internasional dan Tantangan yang Dihadapi
Kerja sama internasional menjadi kunci dalam pengembangan teknologi ini, di mana Indonesia bekerja sama dengan negara-negara seperti Argentina, Malaysia, dan Filipina dalam demonstrasi teknologi.
Syaiful menekankan, "IAEA menyediakan perangkat analitis untuk menilai sirkularitas plastik dan tingkat kematangan teknologi," yang menunjang pelaksanaan program ini.
Meskipun ada kemajuan, tantangan seperti biaya sampling yang tinggi dan kompleksitas analisis masih menjadi hambatan dalam implementasi rencana ke tahap II (2026–2029).
Dukungan internasional dan inovasi terus-menerus sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Dinanti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: