Di Denmark, uji kompetensi orang tua menjadi syarat wajib yang penting bagi kesejahteraan anak-anak mereka, terutama bagi orang tua Greenland. Kebijakan ini berpotensi menghasilkan konsekuensi signifikan, termasuk risiko pengambilan anak paksa oleh Dinas Sosial bagi orang tua yang dinyatakan tidak layak.
Baca juga: Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Melalui serangkaian tes psikologis dan wawancara, pemerintah Denmark bertujuan menilai kemampuan orang tua dalam mendidik anak. Namun, hasil uji ini menuai kritik, terutama mengenai dampaknya bagi keluarga Greenland yang menghadapi tantangan yang lebih besar.
Penerapan Uji Kompetensi Orang Tua
Uji kompetensi orang tua yang dikenal sebagai FKUs dilaksanakan untuk menilai kelayakan orang tua dalam membesarkan anak. Proses ini mencakup tes psikologis, wawancara, dan berbagai tes kognitif yang bertujuan mendeteksi risiko penelantaran atau kekerasan terhadap anak.
Dukungan terhadap metode ini berasal dari keyakinan bahwa penilaian objektif jauh lebih baik dibandingkan bukti anekdotal yang seringkali diberikan oleh pekerja sosial. Namun, kritik menyatakan bahwa hasil tes tidak mencerminkan sepenuhnya kapasitas seseorang sebagai orang tua.
Banyak orang berpendapat bahwa pendekatan ini dapat menimbulkan stres tambahan bagi orang tua yang sudah berada dalam situasi sulit, dan tidak memperhitungkan konteks sosial serta budaya yang dihadapi.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dampak Terhadap Orang Tua Greenland
Statistik menunjukkan bahwa orang tua Greenland memiliki kemungkinan 5,6 kali lebih tinggi mengalami pengambilan anak paksa dibandingkan orang tua Denmark lainnya. Proses ini sering kali disertai tekanan emosional yang mendalam pada orang tua yang merasa kehilangan kontrol atas kehidupan mereka.
Keira, seorang ibu dari Greenland, berbagi bahwa bayinya terpisah darinya hanya dalam waktu dua jam setelah kelahiran. Ia mendeskripsikan pengalaman itu sebagai kehilangan yang sangat menyakitkan.
Peneliti menemukan bahwa meskipun hasil uji tidak memberikan gambaran jelas tentang kemampuan mendidik, keputusan yang diambil berdasarkan hasil tersebut sering kali berakibat permanen dan dapat merusak ikatan keluarga.
Proses Tinjauan dan Pembaruan Kebijakan
Pemerintah Denmark mengakui adanya kritikan terhadap penerapan FKUs dan mengindikasikan bahwa mereka sedang meninjau beberapa kasus yang melibatkan anak-anak Greenland. Namun, dalam praktiknya, sedikit kasus yang benar-benar ditinjau ulang.
Walaupun ada beberapa upaya untuk merevisi kebijakan, ketidakpastian tetap menyelimuti banyak orang tua terkait kemungkinan kehilangan hak asuh anak mereka akibat penilaian yang dianggap tidak adil.
Sebagai langkah baru, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengkaji kembali pelaksanaan tes ini dengan mengadaptasi pada konteks budaya warga Greenland demi keadilan dan penerimaan.
Baca juga: Respons Google Terkait Isu Keamanan Gmail dan Phishing
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: