Pada Minggu, 5 Oktober 2025, dentuman keras yang mengejutkan suara warga terdengar di atas langit Cirebon, menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat setempat.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kejadian ini diduga disebabkan oleh jatuhnya meteor di Laut Jawa, di mana pakar dari Observatorium Bosscha, Agus Triono Puri Jatmiko, menjelaskan fenomena ini lebih dalam.
Fenomena Dentuman Keras dan Sonic Boom
Dentuman yang terdengar di Cirebon memiliki karakteristik yang mirip dengan sonic boom. Sonic boom terjadi ketika objek bergerak lebih cepat dari kecepatan suara, menghasilkan suara dentuman ultrasonik.
Pakar menjelaskan bahwa sumber dari suara ledakan ini juga dapat berasal dari pecahnya material meteor akibat gesekan dengan atmosfer. Proses ini menghasilkan suhu yang sangat tinggi, menjadikan suara dentuman semakin terdengar meledak.
Getaran yang dihasilkan dari ledakan ini mampu merambat melalui udara hingga mencapai permukaan Bumi, mengakibatkan kepanikan di kalangan masyarakat yang mendengarnya.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Ukuran Meteor dan Perbandingan dengan Kejadian Sebelumnya
Agus Triono menjelaskan bahwa meteor yang melintasi langit Cirebon diperkirakan memiliki diameter antara 3 hingga 5 meter. Untuk memberi gambaran, meteor yang melintasi Bone di Sulawesi Selatan pada 2009 berukuran 10 meter.
Meteor Chelyabinsk pada tahun 2013 menjadi contoh lain, dengan ukuran mencapai 17 meter. Agus menyatakan, 'Meteor Cirebon termasuk kecil jika dibandingkan dengan dua kejadian sebelumnya,'
Informasi ini penting dalam memahami bahwa meskipun meteor tersebut kecil, peristiwanya tetap membawa perhatian serius mengenai keselamatan masyarakat.
Dampak dari Jatuhnya Meteor di Cirebon
Menanggapi dampak dari meteor berukuran kecil ini, Agus menyatakan bahwa dampaknya di lautan akan tergolong minimal. Meteor dengan ukuran 3-5 meter adalah ukuran sebelum memasuki atmosfer, dan setelah itu ukurannya bisa lebih kecil.
Namun, Agus menekankan bahwa meskipun ukurannya kecil, potensi bahaya tetap ada. 'Jika meteor ini meledak dengan energi besar dan ketinggian rendah, tentu gelombang kejutnya bisa merusak bangunan dan mencederai manusia,' jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan, mengingat kejadian serupa sulit diprediksi. Tidak semua asteroid berukuran besar dapat dideteksi lebih awal, yang menimbulkan tantangan tersendiri dalam upaya mitigasi risiko.
Baca juga: Kunto Aji: Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Ditegaskan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: