Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi cuaca ekstrem yang akan melanda beberapa wilayah di Indonesia dalam waktu dekat.
Baca juga: Proses Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Hujan lebat diperkirakan akan terjadi akibat fenomena atmosfer global dan lokal yang memengaruhi cuaca Tanah Air.
Analisis Cuaca oleh BMKG
BMKG mencatat cuaca ekstrem telah mulai muncul dalam beberapa hari terakhir, dengan hujan lebat yang terjadi di berbagai wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, Jabodetabek, dan Nusa Tenggara Barat.
Dinamika atmosfer yang memengaruhi kondisi ini melibatkan beberapa faktor, termasuk Dipole Mode Index (DMI) dan penguatan Monsun Asia, dengan DMI saat ini berada pada nilai −0.99 yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.
Kondisi La-Nina yang lemah, terlihat dari indeks Nino 3.4 Relatif sebesar -0.95, juga merupakan faktor yang meningkatkan potensi hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat Masuk Kampus Saat Kericuhan
Faktor-faktor Penyebab Hujan Lebat
Penguatan Monsun Asia, yang tercermin dalam nilai WNPMI yang signifikan, meningkatkan pasokan uap air dari Samudra Hindia, sehingga memicu pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Saat ini, Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 6, dengan aktivitas yang diprediksi akan terjadi di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan bagian utara.
Kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator diperkirakan akan berdampak pada pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Maluku bagian selatan.
Wilayah yang Terkena Dampak
Menurut analisis BMKG, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat antara 21-23 November mencakup Aceh, Sumatera Utara, Jambi, dan Jawa Timur.
Pada periode 24-27 November, daerah yang diramalkan akan menerima curah hujan tinggi meliputi Aceh, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat.
BMKG juga memberikan peringatan mengenai gelombang tinggi yang dapat mencapai hingga 4 meter di Laut Arafura, yang dipicu oleh pergerakan Siklon Tropis FINA di Laut Arafura selatan Pulau Tanimbar.
Baca juga: 5 Kota di Indonesia yang Pas untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: