Xenotransplantasi, yang mengacu pada transplantasi organ antarspesies, memberikan harapan bagi pasien yang membutuhkan organ donor, terutama ginjal.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Meskipun memiliki potensi yang besar, tantangan utama yang dihadapi adalah penolakan hiperakut oleh sistem imun manusia.
Uji Klinis dan Penelitian yang Dilakukan
Para ilmuwan telah melakukan transplantasi ginjal babi yang telah direkayasa ke seorang resipien yang dinyatakan mati otak namun dengan fungsi jantung yang masih aktif. Selama periode 61 hari, tim peneliti melakukan pemantauan menyeluruh terhadap interaksi sel imun manusia dengan ginjal babi.
Pemantauan ini menghasilkan data berharga tentang mekanisme penolakan, di mana ditemukan bahwa antibodi dan sel T berperan penting dalam menentukan keberlangsungan organ yang ditransplantasikan.
Temuan ini menjadi titik awal untuk memahami dan mengatasi tantangan penolakan yang sering mengganggu keberhasilan transplantasi organ antarspesies.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain
Penemuan dan Terobosan dalam Penanganan Penolakan
Melalui penelitian ini, para ilmuwan berhasil membalikkan reaksi penolakan yang terjadi dengan menggunakan kombinasi obat yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) AS. Metode ini berhasil mengendalikan aktivitas dari antibodi dan sel T yang berpotensi merusak organ transplantasi.
Dr. Robert Montgomery, penulis utama studi, menjelaskan, 'Hasil kami lebih mempersiapkan kami untuk mengantisipasi dan mengatasi reaksi imun yang berbahaya selama transplantasi organ babi pada manusia yang hidup.'
Dengan tidak adanya kerusakan permanen yang terdeteksi, ini menunjukkan bahwa ginjal babi dapat berfungsi dengan optimal sebagai alternatif nyata bagi ginjal manusia.
Rekayasa Genetika Ginjal Babi
Ginjal yang digunakan dalam penelitian ini diproduksi oleh Revivicor, sebuah perusahaan yang berfokus pada modifikasi genetik untuk mencegah penolakan organ. Proses ini melibatkan teknologi canggih seperti CRISPR-Cas9 untuk menciptakan ginjal yang lebih kompatibel dengan sistem imun manusia.
Modifikasi yang dilakukan termasuk penghapusan gen GGTA1 yang menghasilkan karbohidrat Alpha-Gal yang menjadi pemicu penolakan, dan penambahan gen manusia yang berfungsi sebagai inhibitor komplemen.
Dr. Brendan Keating, penulis senior studi, menyatakan, 'Reaksi imun spesifik yang terungkap dalam investigasi kami memberikan target yang jelas untuk terapi guna meningkatkan keberhasilan xenotransplantation.'
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: