Dalam beberapa tahun terakhir, istilah 'toxic positivity' semakin sering terdengar di berbagai kalangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa optimisme yang berlebihan justru bisa menjadi tidak sehat bagi individu.
Baca juga: iPhone 17 Series: Tanpa SIM Tray, Hanya Mengandalkan eSIM
Masyarakat kerap kali dihadapkan pada ekspektasi untuk selalu berpikir positif, padahal ada momen sulit yang perlu dihadapi dengan jujur tanpa penilaian.
Apa itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah sikap yang mendorong kita untuk selalu berpikir positif, meskipun situasi yang dihadapi tidak mendukung. Ungkapan seperti 'Cobalah untuk tetap positif!' sering kali muncul dalam konteks ini.
Fenomena ini tidak hanya terbatas pada interaksi pribadi, tetapi juga meresap dalam media sosial. Banyak orang merasa tertekan ketika mereka tidak memiliki hak untuk merasakan kesedihan atau kekecewaan.
Hal ini berimplikasi pada kesehatan mental, karena individu merasa terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis untuk selalu bahagia.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo di Jakarta Karena Kondisi Tak Kondusif
Dampak Negatif dari Toxic Positivity
Meskipun sering datang dengan niat baik, toxic positivity dapat memberikan beban emosional tambahan. Ketika seseorang menghadapi masalah, nasihat untuk selalu berpikir positif sering kali membuat mereka merasa diabaikan.
Sebuah studi oleh Lisa Williams menunjukkan bahwa individu yang mengalami toxic positivity cenderung merasa lebih terasing dan kesepian. Mereka sering kali enggan untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya karena takut tidak diterima.
Ini menciptakan lingkaran setan di mana emosi negatif diabaikan, dan individu menjadi lebih tergantung pada harapan yang tidak realistis.
Cara Menghadapi Toxic Positivity
Mengakui dan menerima semua emosi, baik positif maupun negatif, sangat penting dalam proses penyembuhan. Menghadapi perasaan sulit dengan cara yang sehat dapat membantu individu untuk tumbuh.
Daripada mengedepankan pandangan optimis yang tidak realistis, ada baiknya untuk mendukung diri sendiri dan orang lain dengan empati. Sebagai contoh, ungkapan seperti, 'Ini terasa sulit, tetapi kita bisa melewati ini bersama-sama,' bisa lebih berarti.
Menghadapi emosi secara terbuka membantu menciptakan lingkungan di mana setiap individu merasa dihargai tanpa menghiraukan harapan positif yang berlebihan.
Baca juga: Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: